Sabtu, 24 Januari 2015

Awas !!!!!! Hati-Hati Jalan Raya Kedungmalang – Tedunan Jepara Rusak Parah

Jepara – Jalan raya desa Kedungmalang – Tedunan kecamatan Kedung kabupaten Jepara saat ini kondisinya rusak parah. Jalan sepanjang lima kilometer ini jika hujan menjadi kolam-kolam kecil yang berisi air. Hal ini cukup menganggu pengendara yang lewat.
Terutama kendaraan roda dua harus ekstra hati-hati agar tidak tergelincir ke dalam kubangan air. Begitu juga kendaraan angkutan harus berjalan pelan agar badan kendaraan tidak menyentuh jalan. Akibat rusaknya jalan jumlah kendaraan yang lewat menurun drastic.
“ Semenjak jalan ini rusak kendaraan jarang lewat jalan ini. Mereka memilih lewat jalan di daerah Demak yang lebih bagus. Akibatnya beberapa usaha disini sepi terutama warung dan penjual bensin “, ujar Robin warga desa Karangaji pada kabarseputarmuria.com.
20150115_115731
Kerusakan jalan menurut warga sekitar sudah ada tiga tahun lebih. Jalan raya Kedungmalang – Tedunan ini hanya beberapa titik yang sudah diperbaiki dengan betonisasi. Jalan yang dibetonisasi baru beberapa ratus meter di desa Kedungmalang. Sisanya masih panjang dan kondisinya rusak parah.
“ Selain tidak ada perbaikan , kerusakan jalan diakibatkan oleh lewatnya truk tronton pengangkut garam. Akibatnya beberapa titik jalan ambles jika hujan membentuk kubangan air yang cukup dalam “, kata H. Musthofa warga desa Kedungmalang
Musthofa mengharapkan agar kerusakan jalan tidak semakin parah . Diharapkan adanya perbaikan dari pemerintah. Selain itu juga adanya pembatasan kendaraan yang melewati jalan itu. Sebagai contoh untuk truk tronton pengangkut garam yang besar seharusnya tidak boleh melewati jalan yang rusak itu.
20150119_170531
“ Kita berharap adanya perbaikan jalan dari pemerintah daerah . Agar kerusakan jalan itu tidak semakin parah. Selain itu ada pembatasan kendaraan yang lewat jalan ini. Salah satunya adanya truk tronton pengangkut garam sebagai pemicu rusaknya jalan “, kata Musthofa.
Memang jalan raya Kedungmalang – Tedunan ini  sudah tidak layak lagi dilewati kendaraan. Secepatnya pemerintah daerah memperbaiki jalan yang cukup ramai ini. Jalan raya ini merupakan jalan alternative menuju kota Jepara via desa Kedungmalang. (Muin)

KSP “ Margi Rahayu” Musim Hujan Pinjaman Jaminan Emas Meningkat

Demak – Koperasi Simpan Pinjam ( KSP ) “Margi Rahayu” desa Kedungmutih kecamatan Wedung jika musim hujan tiba ada keramaian tersendiri. Koperasi yang berkantor di salah satu kios pasar ini ramai dengan datangnya para nelayan dan petambak. Mereka menjaminkan emasnya untuk mengambil pinjaman guna memenuhi kebutuhan hidup selama musm penghujan.
Dengan membawa perhiasan berupa gelang, kalung, dan cincin mereka mengajukan pinjaman dengan jangka waktu pendek menunggu laut atau tambak ramai kembali. Pinjaman mereka tidak besar berkisar Rp 500 ribu – Rp 1 juta. Jika laut kembali ramai merekapun segera menebusnya kembali.
“ Kenaikan pinjaman jaminan emas ini berkisar 50 – 70 persen dibandingkan hari-hari biasa. Bahkan jika laut ombak sampai satu minggu kenaika bisa 100 persen dari hari-hari biasa “ kata Harun bagian penaksiran perhiasan emas KSP “Margi Rahayu” pada kabarseputarmuria.com
Harun mengatakan , kenaikan pinjaman jaminan emas itu dipicu oleh laut berombak atau tambak yang sepi ikan. Para nelayan dan petambak membutuhkan dana segar untuk memenuhi kebutuhan makan harian dan kebutuhan lainnya. Sehingga mereka berinisiatif untuk menjaminkan perhiasan mereka ke kantor koperasi.
foto ksm 
Oleh karena itu jika musim penghujan tiba koperasi menambah dana pembiayaan khusus untuk anggota dengan jaminan emas. Selain para nelayan ,petambak ikan dan garam juga butuh dana segar untuk persiapan tebar dan juga kebutuhan harian. Biasanya mereka mempunyai simpanan garam di dalam gudang
Garam-garam hasil panen mereka selama musim kemarau selain dijual pada para pengepul . Mereka sisakan di dalam gudang sebagai simpanan dan dijual ketika harga mulai naik ataupun kebutuhan mendadak. Misalnya untuk kebutuhan menyewa lahan tambak, memperbaiki rumah dan keperluan lainnya,
“ Jika kebutuhan bersifat kecil , mereka lebih senang menggadaikan perhiasan mereka ke sini. Nanti setelah harga garam naik baru dijual sebagian untuk menutup pinjaman mereka disini sisanya untuk kebutuhan besar lainnya “,tambah Harun.
Adapun pembiayaan jaminan emas ini ada perhitungan khusus ,tidak sama dengan pembiayaan bulanan. Nilai pencairan tergantung nilai barang jaminan maksimal bisa sampai 70 persen dari hasil jual. Bagi hasil hitungannya tidak  bulanan namun dihitung mingguan. 1-7 hari dihitung 1 minggu , 8-14 hari dihitung 2 minggu begitu seterusnya.
“ Di pinjaman dengan jaminan emas ini kita tidak menerapkan administrasi seperti pembiayaan bulanan. Sehingga mereka menerima pinjaman tanpa potongan sama sekali “, tambah Harun. (Muin)




Nelayan di Demak , Laut Ombak Gadaikan Perhiasan Dan Barang Berharga

Demak – Bagi nelayan di kabupaten Demak musim penghujan merupakan musim puso atau sepi. Laut yang berombak membuat perahu mereka tidak berani membelah laut. Akibatnya perahu hanya ditambatkan di pinggir sungai menanti laut bersahabat kembali.
Seperti yang terlihat di desa nelayan Kedungmutih, Kedungkarang dan Babalan . Ratusan perahu terlihat berjajar rapi menunggu laut tenang kambali. Beberapa nelayan tampak diatas perahu memperbaiki mesin dan alat tangkap. Sedangkan yang lain tampak duduk-duduk di depan rumah sambil ngobrol.
“ Ya ombak kayak begini ya bisanya duduk-duduk ngobrol di rumah. Sedangkan yang dapat pocokan kerja ya kerja seadanya. Kuli bangunan, kuli angkut garam dan cari kerjaan di kota “, kata Masrukan nelayan asal desa Kedungkarang kecamatan Wedung pada kabarseputarmuria.
Untuk memenuhi kebutuhan harian mereka biasanya mereka menggadaikan perhiasan emas dan barang berharga lainnya. Barang-barang itu dibawa ke toko emas, pegadaian atau lembaga keuangan. Jika nanti laut ramai kembali barang-barang itupun ditebus kembali.
“ Ya habis gimana lagi setiap hari kita butuh makan dan keperluan lain. Jika laut ombak ya bagaimana caranya kita bisa dapat uang. Terpaksa kita gadaikan perhiasan emas ke tempat pegadaian “, tambah Masrukan.
1aa
Hal sama juga dikatakan Sopyan ( 45) nelayan asal desa Kedungmutih , Jika laut sepi dia menggadaikan perhiasan ke Koperasi di desanya. Uang dari menggadaikan perhiasan itu digunakan untuk belanja dan kebutuhan  lain di kala  laut sedang ombak besar. Adapun pengambilan barang dilakukan jika “miyang” kembali ke laut.
“ Ya kalau kebutuhannya banyak kita ambil Rp 500 ribu – Rp 800 ribu, kalau dikit paling kita ambil Rp 200 – Rp 400 ribu. Paling lama nebusnya ya dua minggu kadang belum ada satu minggu sudah kita tebus karena laut sudah menghasilkan “, kata Sopyan.
Sopyan sudah mempunyai langganan menggadaikan perhiasan emasnya. Selain di toko emas pasar desa setempat , juga di sebuah koperasi simpan pinjam yang berkantor di kios pasar baru desa kedungmutih. Perhiasan yang ia bawa merupakan simpanan yang setiap waktu bisa digunakan untuk mengatasi kesulitan belanja sehari-hari jika laut sedang sepi . (Muin).

Senin, 19 Januari 2015

Pak Yatin Mencari Uang Dengan Jualan Genting Kaca Keliling

Demak – Bagi pak Yatin (55) warga desa Jleper kecamatan Mijen kabupaten Demak berjualan adalah salah satu cara yang termudah untuk mendapatkan rezeki atau penghasilan. Selain bekerja sebagai buruh tani di sela-sela waktunya ia manfaatkan untuk berjualan Genting kaca keliling.
Ia kulakan genting kaca dari Semarang bersama temannya. Satu kali kulakan paling sedikit ia membeli 400 – 600 buah genting. Bersama temannya satu desa genting kaca itupun ia jual secara kelilingan. Dengan naik sepeda ia berkeliling dari kampung satu ke kampung lainnya.
“ Selain di daerah Demak sendiri meliputi kecamatan Wedung, Mijen dan Bonang. Saya jug aider keliling kampung di daerah Jepara mulai dari kecamatan Kedung, Pecangan dan Welahan “, kata Pak Yatin pada kabarseputarmuria.com.
Dengan sepeda tuanya pak Yatin berangkat dari rumah habis subuh. Iapun menuju desa pelosok yang jauh dari toko bangunan. Ini diharapkan warga yang membutuhkan genting kaca akan  membeli darinya. Selain itu genting kaca adalah barang yang mudah pecah sehingga jika membeli dari toko harus hati-hati membawanya.
“ Tapi kalau membeli dari saya tidak usah jauh jauh ke toko bangunan. Meskipun harganya sedikit lebih mahal namun keamanan terjamin. Bisa langsung dipasang “, kata pak Yatin.
20150115_125623
Menjalani kerja sebagai penjual genting keliling harus sabar. Jika sehari  tidak ada yang membeli jangan putus asa. Awal-awal berjualan genting kaca ini sehari ia pernah hanya laku 1-2 genting . Namun pekerjaan itu tetap dijalani. Prinsipnya jika mau berjalan pasti ada yang membelinya. Soal banyak atau sedikit itu sudah rezeki dari Allah.
“  Hari ini saya membawa sekitar 50 buah genting, alhamdulillah tinggal 10 an . Sambil perjalanan pulang mudah-mudahan bisa habis semua . “tambah pak Yatin.
Berjualan genting kaca ini keuntungannya cukup lumayan. Ia menjual satu buahnya Rp 10 ribu , rata rata pelanggan beli paling sedikit 2 buah. Ia mengambil kentungan sekitar 20 persen. Jika sehari laku 50 buah genting maka ia bisa mendapatkan penghasilan kotor sekitar Rp 100 ribu. Namun jika dirata-rata ia bias menjual genting kaca 25 – 30 buah.
Selain ider di daerah Demak dan Jepara , pak Yatin juga jualan genting kaca ini di daerah Jawa Timur. Bersama temannya ia kontrak rumah untuk ditempati bersama selanjutnya ia bersama rekan-rekannya turun ke desa-desa untuk ider genting kaca. Ini dilakukan ketika di desanya tidak ada pekerjaan di bidang pertanian.
“ Intinya kerja jualan jangan malu , ider keliling kampung produk apa saja yang dibutuhkan tetap laku. Soal banyak atau sedikit itu rejeki dari Allah kita tinggal njalani saja “, tambahnya. (Muin) 

Pemegang Kartu BPJS Melahirkan Di Rumah Sakitpun Bebas Biaya

2

Demak  – Saat ini pemerintah terus mensosialisasikan program JKN lewat pendaftaran BPJS kesehatan baik lewat media massa juga brosur dan leaflet.Program ini ditujukan kepada seluruh warga Indonesia yang tidak dijamin lewat jamkesmas atau Askes. Memang setelah adanya BPJS kesehatan ini warga bisa mengakses layanan kesehatan dengan biaya yang murah.
Hal itu dikatakan seorang pasien yang habis melahirkan di Rumah Sakit Kumalasiwi Pecangaan. Setelah ia mendaftarkan BPJS ia bisa control dan juga melahirkan tanpa dipungut biaya apapun. Dia hanya membayar biaya bulanan sebesar Rp 59.500. Jika dihitung dengan biaya persalinan mandiri ikut BPJS lebih ringan.
“ Bagi kami ikut BPJS ya ada manfaatnya , kita hanya dibebani iuran bulanan . Jika kita mau ke rumah sakit tinggal berangkat saja tidak berpikir punya uang atau tidak “, kata Abah Ardans warga desa Kedungmutih suami pasien yang baru saja melahirkan.
Mengurus kartu BPJS sekarang lebih mudah , selain antri di kantor BPJS kabupaten bisa juga mendaftar secara on-line. Adapun berkas-berkas yang dipersiapakan diantarnyanya adalah Foto Copy KK, Foto Copy KTP suami, istri , anak , no rekening tabungan, No HP dan foto semua anggota keluarga ukuran 3X4 masing-masing 2 lembar.
Setelah persyaratan itu siap kita bisa langsung mendaftar ke kantor BPJS kabupaten. Disarankan berangkat dari rumah pagi sekali sebelum kantor buka. Diharapkan sampai di kantor BPJS mendapatkan nomor antrian dahulu. Setelah itu tinggal nunggu panggilan untuk diproses kartu BPJSnya.
“ Dari rumah jangan lupa mempersiapkan uang untuk membayar iuran. Untuk kelas 1 besarnya Rp 59.500,-,kelas 2 Rp 42.500,- sedangkan kelas 3 Rp 25.500 per anggota keluarga. Jika jumlahnya 6 yang tinggal mengalikan”, tambahnya.
Sedangkan untuk mendaftar secara On-line , jika dirumah sudah ada jaringan internet dan juga printer kita bisa langsung memasukkan data yang harus diisikan . Setelah data masuk semuanya maka kita akan mendapatkan pesan dari email yang isinya no virtual rekening yang harus dibayar. Setelah pembayaran dilakukan maka kartu BPJS electricpun bisa dicetak.
“ Namun kartu BPJS yang baru di cetak itu tidak bisa digunakan secara langsung ,tetapi baru satu minggu kemudian baru bisa digunakan untuk berobat jalan atau mondok di rumah sakit “, kata Abah Ardans.
Oleh karena itu bagi warga masyarakat yang saat ini belum dijamin kesehatannya  lewat jamkesmas atau Askes diharapkan untuk mendaftarkan diri ke kantor BPJS secara mandiri. Dengan memegang kartu BPJS berapapun kelasnya maka warga masyarakat sudah mendapatkan jaminan kesehatan. (Muin)

Rabu, 07 Januari 2015

Demi Sapinya , Pak Sutiyo Setiap Hari Ngarit Rumput

Pak Sutiyo peternak dari Bugel

Jepara- Bertani menanam padi dan beternak memelihara sapi bagi Pak Sutiyo warga desa Bugel kecamatan Kedung merupakan satu kesatuan. Agar ekonomi keluarga berjalan lancar maka kedua profesi itu dijalankan secara bersama-sama. Jika musim tanam padi tiba iapun menggarap sawahnya sampai panen. Disela-sela menggarap sawah iapun memelihara sapi dibelakang rumahnya. Dari hasil tanam padi dan memelihara sapi itulah kehidupan  keluarganya berjalan lancar.

“ Kalau dihitung secara kasar hidup dari beternak saja tidak mungkin cukup. Hasil dari beternak biasanya di waktu tertentu saja . Oleh karena itu agar kebutuhan keluarga terpenuhi harus mempunyai pekerjaan sambilan lain “, ujar Pak Sutiyo anggota Kelompok Tani Mangun Sejati desa Bugel pada kabarseputarmuria.com




Dirumahnya saat ini pak Sutiyo mengaku ada 9 ekor sapi . Sapi-sapi itu awalnya ia beli seharga 8-9 jutaan. Sapi itu digemukkan dengan pemberian pakan secara berimbang. Salah satu pakan yang setiap hari harus dipersiapkan adalah rumput. Agar ketersediaan pakan selalu ada dikandang maka ia rela ngarit rumput setiap harinya.

“ Ya gimana lagi punya tanggungan ternak sapi yang butuh makan setiap hari , mau tidak mau setiap hari saya keluar rumah untuk ngarit rumput. Kalau musim penghujan seperti ini sih jaraknya paling 4-5 kilometer . Tetapi jika musim kemrau panjang saya pernah cari rumput sampai daerah Wedung Demak sana kurang lebih  20 km dari rumah saya “, kata pak Sutiyo.

Pak Sutiyo mengemukakan , meskipun dia tercatat sebagai anggota kelompok tani ia belum pernah mendapatkan penyuluhan atau bantuan dari dinas terkait. Utamanya ternak dia berharap kepada pemerintah adanya kemitraan ataupun bantuan untuk peternak seperti dirinya. Misalnya penambahan modal lewat ternak dengan system gaduhan. Selain itu juga penyuluhan tentang usaha ternak yang baik.

Jika dikembangkan dengan baik usaha ternak sapi ini bisa mendatangkan penghasilan tambahan yang lumayan. Setidaknya ia setiap tahun minimal dua kali ia menangguk hasil dari usaha ternak sapi. Bila hari raya qurban atau hari raya iedul fitri ia melepas sapi peliharaannya untuk digantikan yang baru. Selama 1-2 tahun ia pelihara satu ekor sapi keuntungannya bisa mencapai separuh atau kurang sedikit.

Sebagai contoh ia beli bakalan sapi seharga 8 juta misalnya , maka setelah dipelihara 1 tahun lebih sedikit jika dijual laku 12 juta -14 juta. Jika peternak mempunyai peliharaan sapi 10 ekor misalnya maka setiap tahun ia bisa mendaparkan keuntungan kotor Rp 30 – 40 juta kotor . Jika biaya operasional pemeliharaan 40 persen maka keuntungan bersih setiap tahunnya bisa mencapai Rp 18 – 24 juta.

“ Oleh karena keuntungan yang masih lumayan itulah maka saya selain petani juga samben memelihara sapi. Uang keuntungan dari penjualan sapi ini biasanya untuk kebutuhan besar misalnya beli sepeda motor , memperbaiki rumah atau untuk punya gawe “, aku pak Sutiyo.(Muin)


Abrasi Pantai Jepara Semakin Menggila , 4 Tahun Amblaskan 100 Meter tambak.


Jepara – Kerusakan tambak akibat abrasi di sepanjang pantai Semat-Kedungmalang dalam empat tahun terakhir ini cukup mengkhawatirkan. Dalam masa empat tahun dimulai tahun 2011 dan berakhir tahun 2014 ini. Tambak yang tergerus abrasi ada 100 meter , setahun paling tidak 25 meter tambak jadi lautan.
“ Tambak yang saya garap dulunya panjang mencapai 370 meter kini yang tersisa tinggal 160 meter. Jadi garis pantai semakin mendekati jalan raya Kedungmalang-Semat “, ujar Tasliman petani tambak asal desa Tanggul Tlare kecamatan Kedung pada kabarseputarmuria.com
Tasliman menggambarkan lima tahun yang lalu tambak yang digarapnya itu jauh menjorok ke bibir pantai. Namun saat ini pantai terus mendekat karena gerusan ombak di musim penghujan. Apalagi tambaknya memang tidak ada penahan gelombang. Sehingga jika ombak besar datang menerpa , tanggul tambak hancur  dan ikan dalam tambakpun hilang ke laut.
“ Kalau tambak yang pinggir pantai ada penahan gelombang berupa pasangan batu atau tanaman mangrove . Abrasi tidak terlalu keras menggerus. Seperti tambak yang sebelah sana agak aman karena pantainya ditanami mangrove “ cerita Tasliman.
Untuk tambak yang garis pantainya dibangun tanggul penahan gelombang abrasi bisa dikendalikan. Setiap tahunnya paling 5-10 meter garis pantai mun.dur mendekati jalan raya. Oleh karena itu jika dilihat dari laut kerusakan tambak akibat abrasi tidak sama. Ada yang cukup parah , ada juga yang sebagian.
Tasliman petambak dari desa Tanggul Tlare

“ Nah yang kami usulkan  pada pemerintah secepatnya membuat tanggul penahan gelombang sepanjang pantai . Jika tidak ada tanggul penahan mungkin lima tahun  ke depan jalan ini sudah tidak ada tergerus abrasi “, tambah Tasliman.
Selain itu ada upaya penyelamatan tambak dengan penanaman berbagai tumbuhan utamanya Mangrove dan Api-Api. Seperti halnya di beberapa titik di pantai Semat telah ada upaya konservasi pantai dengan pembuatan tanggul penahan gelombang dari bis beton, pasangan batu dan batu curah .
Selain itu ada juga penanaman mangrove dan Api-api di bibir pantai . Terlihat mangrove dan Api-api terlihat subur , ombakpun terpecah sebelum sampai di tambak atau pantai. Sedangkan tanaman itu cukup teduh dan bisa digunakan untuk beristirahat. (Muin)    
          


Premium Habis Beli Pertamax Bukan Masalah


Jepara – Setelah kenaikan harga  premium ,  pertamax mulai dilirik oleh pengguna kendaraan roda dua atau empat. Di sejumlah SPBU memang antrian Bensin Premium masih mengular. Namun ketika  premium habis maka bensin pertamaxpun mulai dilirik oleh pembeli. Meski tidak semua beralih ke premium namun ada kecenderungan pemakaian pertamax semakin naik.
“ Ya gimana lagi premium habis ya isi pertamax mas , meski harga agak mahalan sedikit yang penting barang ada . Daripada tunggu datangnya kiriman atau muter-muter cari premium isi pertamax tak apalah “, kata Yaqin salah satu pembeli yang ditemui kabarseputarmuria di SPBU Pecangaan Kulon.
Yakin mengatakan premium memang lebih murah dibandingkan dengan pertamax. Namun jika barangnya habis mau cari kemana lagi. Beli eceran harganya terpaut sedikit dengan harga pertamax. Jadi daripada cari ke SPBU lain maka isi pertamax adalah langkah yang paling cepat.
“ Bagi saya sih yang penting barang ada baik itu premium atau pertamax. Jika dapat premium ya syukur dapat pertamax ya ndak apa-apa. Paling sekali isi ya terpautnya 3-4 ribu saja “, tambah Yakin.
Sementara itu Ida Operator SPBU Pecangaan kulon mengatakan, meski sudah ada kenaikan harga premium namun pengguna kendaraan masih lekat dengan premium. Terutama bagi kendaraan angkutan umum mengisi premium lebih hemat . Oleh karena itu premium sering habis dan harus menunggu diisi kembali.
“ Premium disini habisnya tadi jam 8 pagi , kalau tidak terlambat pengisian dijadwalkan nanti sore. Beberapa pengguna kendaraan ada yang balik ,namun beberapa ada juga yang mau ngisi pertamax “, ujar Ida.
Bahan bakar jenis premium ini cepat habis dikarenakan , pembelian oleh pengecer. Di desa-desa bahan bakar premium ini masih menjadi primadona. Selain untuk bahan bakar kendaraan roda dua dan empat. Premium ini juga di gunakan untuk genset perahu , genset rumah dan bahan bakar mesin pompa air. Oleh karena itu bahan bakar ini sering kehabisan sebelum jadwal pengisiaan kembali.
Untuk pembelian bahan bakar jenis pertamax ini , SPBU Pecangaan Kulon memberikan kupon undian dengan berbagai macam hadiah. Kupon itu diberikan pada pelanggan untuk pembelian nominal minimal Rp 25 Ribu. Kupon itu pada waktu tertentu akan diundi . (Muin)


Jumat, 02 Januari 2015

Tanggul SWD II Kedungkarang Kritis , Perlu Perbaikan


Demak – Musim hujan mulai datang namun beberapa tanggul di kecamatan Wedung kondisinya rawan  ambrol dan kebanjiran. Salah satunya adalah tanggul di desa kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak. Tanggul yang belum dibangun talud pasangan batu ini kondisinya mengkhawatirkan. Tanggul tanah ini beberapa tahun tidak ada peninggian.
“ Musim hujan tahun yang lalu tanggul ini hampir ambrol untung warga bergotong royong menambal tanggul dengan zak-zak berisi tanah. Sehingga air luapan sungai serang ini tidak masuk kampung “, kata H. Yunus warga desa Kedungkarang pada kabarseputarmuria.com
H. Yunus yang rumahnya tidak jauh dari tanggul mengatakan, jika musim hujan ia selalu was-was dengan kondisi tanggul itu. Jika kondisi sungai Serang baru airnya mulai tinggi iapun berjag-jaga di sepanjang tanggul. Memastikan keamanan tanggul dari hempasan air banjir sungai serang.
“ Tahun lalu tanggul ini hampir bocor karena limpasan air sungai , Untung saya mengetahui dan langsung memberitahukan kepada warga untuk menambal tanggul dengan tanah secara bergotong royong “, ungkapnya.
Sebenarnya tanggul yang melintasi desa Kedungkarang cukup panjang sekitar 1,5 Kilometer. Namun separohnya sudah dibangun talud tanggul dari pasangan batu belah setinggi 1,5 meter. Separuhnya masih berupa tanah biasa , jika musim hujan tanggul terkikis oleh  air. Beberapa tahun saja ketinggian tanggul hilang.
“ Agar kami tak was-was jika musim penghujan , kami mengharap pemerintah memperbaiki kondisi tanggul kritis. Tahun kemarin desa kami kebanjiran karena jebolnya tanggul di desa Tedunan. Hampir separoh warga kami mengungsi ke daerah Jepara “, kenang H. Yunus.
Hal sama juga dikatakan H. Ahmadi banjir tahun 2014 kemarin selain menenggelamkan rumah warga ,juga puluhan gudang garam milik warga. Warga mengalami kerugian ratusan juta akibat air banjir memasuki areal tambak. Air banjir menerjang dengan deras akibat jebolnya tanggul sungai SWD I di desa Tedunan.
“ Agar banjir tak terjadi di tahun ini , mohon kiranya pemerintah meninggikan tanggul di desa kami. Kami semua masih trauma akan banjir tahun kemarin . (Muin)


Jepara Impor Tenaga Tanam dari Demak


Jepara - Dulu petani Jepara mencari tenaga tanam padi (tandur:jawa) masih mudah . Ibu-ibu atau remaja putri jika musim tanam padi bersedia gugur gunung terjun ke sawah. Namun beberapa tahun belakangan ini petani kesulitan mencari tenaga tanam dengan cara mundur itu.Akhirnya para petani mengimpor tenaga tanam padi ini dari daerah Demak bagian Selatan.

“ Ya kalau tidak ada tenaga tanam padi dari Demak petani disini kececeran dalam menggarap sawahnya. Untungnya  kini sudah ada tenaga tanam padi dan cabut benih (ndaud:bhs Jawa) sehari semuanya selesai “, ujar Mashadi petani asal desa Kaliombo kecamatan Pecangaan pada kabarseputarmuria.com

Mashadi mengatakan , dulu petani cukup sulit mencari tenaga tanam padi local. Jika ada yang bersedia upah atau ongkosnya cukup mahal. Selain itu masih menyediakan sarapan dan makan siang . Jika dihitung pengeluaran cukup besar tak sebanding dengan pekerjaan yang dihasilkan. Jika dipaksakan memakai tenaga tanam local , keuntungan tanam padi padi minim.

“ Nah dengan adanya tenaga tanam padi secara berombongan dari daerah Demak ini petani cukup terbantu. Kita hanya mengawasi pekerjaan mereka jika ada salah kita betulkan. Untuk konsumsi paling kita menyediakan minum dan makanan kecil”, tambah Mashadi.



Untuk ongkos atau upahnya perhitungannya secara borongan. Perbau berkisar Rp 1 juta – 1,5 juta tergantung dari jauh dekatnya lahan. Pembayaran dilakukan setelah pekerjaan selesai yang dikoordinir dengan ketua rombongan . Para ketua rombongan biasanya sekaligus sebagai pencari order yang mengatur jadwal para pekerja tanam padi ini.

Salah satunya adalah pak Badi asal desa Kramat kecamatan Dempet kabupaten Demak. Pak Badi ini setiap  hari membawa rombongannya yang berjumlah 35-40 orang. Satu rombongan biasanya ada tenaga pria 3-4 orang sebagai tenaga ndaud (cabut benih padi). Lainnya para ibu-ibu bagian tanam padi. Dari rumah mereka berangkat habis subuh dan pulangnya sampai rumah habis maghrib atau usai shalat isyak.

“ Nomor telpon saya sudah disimpan para petani disini ,  jika membutuhkan tenaga tanam padi biasanya mereka tinggal ngebel saya hari apa dibutuhkan dan berapa luas lahan yang akan ditanami padi . Nanti saya kalkulasi berapa orang yang saya bawa “, tutur pak Badi

Mbah Atun (55) salah satu tenaga tanam padi dari desa Kramat mengatakan jika musim tanam padi ia bersama tetangganya migrasi ke daerah Jepara untuk mburuh tandur. Biasanya sawah didaerahnya sudah lebih dulu selesai ditanami padi. Mereka berangkat berombongan dengan mencarter kendaraan truk atau angkutan umum. Untuk sarapan dan makannya biasanya mereka membawa dari rumah.

“ Hasilnya tergantung dari borongan tanam padi dalam sehari itu kadang bisa bawa pulang Rp 35 ribu kadang juga nyampai Rp 50 ribu . Itu hasil bersih setelah dikurangi transport dari rumah masing-masing “, aku mbah Atun (Muin)


"BLOGNYA MASYARAKAT PESISIR DEMAK DAN JEPARA "
Bagi pembaca yang ingin berbagi informasi dapat mengirim tulisan apa saja artikel, Berita, Foto dan apa saja yang bermanfaat ke Email : pakardans[at]gmail.com, Dan jika anda mempunyai informasi yang perlu diliput dapat menghubungi Redaksi Phone:
085641629350.-
Bagi anda yang mempunyai usaha apa saja yang ingin dipublikasan via media internet dan menghubungi Redaksi
Bila anda peduli dengan kemajuan blog ini dapat berbagi dengan kami
Donasi bisa dikirimkan via pengelola blog :
Nama : FATKUL MUIN
Bank : BRI UNIT PECANGAAN KULON JEPARA
NO REK : 5895-01-000092-53-8
" Marilah Kita Bersama Berdayakan Masyarakat Pesisir"