Selasa, 30 September 2014

Kuli Angkut Garam Demak , Dari Jalan kaki ,Sepeda Onthel Sampai Sepeda Motor


Demak- Saat ini ladang garam di daerah Demak panen raya . Sejauh mata memandang tampak kristal putih menyilaukan mata teronggok di meja-meja kristalisasi garam. Panas kemarau yang menyengat menambah bertumpuknya garam dilahan pemanenan. Selain petani garam rejeki garam juga dirasakan oleh ratusan tenaga pengangkut garam.

Mereka adalah pekerja musiman yang bekerja hanya jika musim garam tiba. Pria ,wanita  yang muda sampai yang tua mencari lahan perburuan sendiri-sendiri. Tenaga buruh angkut wanita biasanya mengandalkan  badannya saja tanpa alat pembantu. Mereka mengangkut garam yang ditempatkan dalam zak-zak dari lahan menuju ke tempat penjualan pinggir jalan besar tau langsung dimasukkan dalam gudang petani.

“ Ongkosnya tergantung dari jauh dekatnya kita mengangkut garam , jika dekat per zak biasanya Rp 1.200 – Rp 1.500 perzak. Jika tempatnya cukup jauh upahnya ya Rp 2.000 – Rp 2.500 setiap zak “, aku Ibu Tun warga desa Tedunan kecamatan Wedung pada Kabar Seputar Muria, (Minggu 28/9).

Ibu Tun mengatakan ia bersama lima temannya satu RT berangkat dari rumah sekitar pukul setengah enam pagi. Sesampainya di lahan iapun sarapan bersama dengan bekal yang di bawa dari rumah . Setelah itu mulaiah ia bekerja yang pertama memasukkan garam dari keranjang ke zak . Setelah itu baru di angkut dengan jalan kaki ke gudang atau pinggir jalan raya yang jaraknya kurang lebih 150 meter.

“ Kita kuat hanya sebedug saja karena panasnya terlalu terik . Jam 11 siang kita persiapan pulang kadang-kadang jika sudah lelah jam 10 pun kita pulang. Sehari rata-rata kita bisa bawa pulang uang Rp 45 – 50 ribu sudah syukur “, kata Bu Tun.

Lain lagi dengan Pak Ahwan yang juga warga desa Tedunan ia mengangkut garam dengan menggunakan sepeda onthel . Sekali angkut ia bisa membawa garam dua zak . Meskipun harus menuntun sepedanya karena jalannya tidak rata, namun hasilnya bisa lipat dua dengan pengangkut garam wanita. Dengan sepeda tuanya itu ia bisa membawa pulang uang Rp 50 ribu lebih.

Ya pakai sepeda onthel lebih banyak hasilnya dari pada tanpa alat. Ya itu tadi sepedanya harus kuat . Lumayan jika kemarau tiba saya banting setir tenaga angkut garam jika musim penghujan cari ikan di sungai “, aku pak Ahwan.

Selain menggunakan sepeda onthel , banyak juga pengangkut garam yang menggunakan sepeda motor. Sepeda motor yang mereka gunakan rata-rata sepeda motor tua atau sepeda motor bodong. Denga harga yang murah mereka manfaatkan sepeda motor untuk mengangkut garam. Dari upah memnagkut garam itu mereka bisa menghidupi keluarganya di musim kemarau. Tanpa kehadiran buruh angkut garam petani dan pengepul kesulitan memasarkan hasil mereka .(Muin)

Haji Aman dan Lancar bersama KBIH " Al-Firdaus" Jepara hubungi di  085 290 375 959


Jalan Ngemplik Desa Jungpasir Demak Tunggu Perbaikan

Jalan raya Ngemplik tunggu betonisasi

Demak – Jalan raya yang menghubungkan desa-desa di kecamatan Wedung bagian utara tahun 2014 ini sudah semakin bagus kondisinya . Hanya tinggal beberapa ruas saja. Mulai dari desa Kedungmutih , Tedunan , Mutih Kulon sampai dengan desa Mutih wetan kondisinya  jalan beton mulus. Memasuki desa Jungpasir juga telah mulus, sampai dengan pertengahan desa kondisinya juga masih mulus.

Namun setelah memasuki dukuh Ngemplik jalan raya yang menuju ke desa Jungsemi kondisinya masih berupa jalan aspal yang rusak . Jika musim kemarau seperti ini jalan ini berdebu tebal serta tidak rata. Pengendara yang lewat jalan ini harus ekstra hati-hati agar tidak tergelincir. Jika dihitung jalan yang belum tergarap betonisasi ini panjangnya kurang lebih 500 meter.

“ Jika hujan pasti menimbulkan kubangan air yang cukup dalam , ya tinggal ini saja yang belum tergarap mudah-mudahan tahun depan kelar sehingga semua jalan di Jungpasir ini mulus semua “, kata Warga Jungpasir yang tidak mau disebutkan namanya.

Manurutnya jalan itu merupakan satu satunya jalan menuju ke desa tetangga Jungsemi , Jungpandan dan juga Jetak. Setiap hari jalan itu dilewati ratusan pengguna jalan utamanya anak-anak sekolah dari Jungsemi menuju ke Jungpasir atau Mutih Kulon. Jalan raya yang melewati desa Jungpasir ini juga merupakan jalan alternative menuju ke kota Welahan Jepara atau Mijen Demak.

Beberapa warga  yang ditemui mengharap jalan raya yang melewati desa yang terkenal Jambu citra dan delimanya ini agar segera diperbaiki seperti di tempat lain. Sehingga ke depan jalan raya yang melewati desa Jungpasir semuanya mulus agar transportasi warga lancar. Selain itu transportasi hasil pertanian juga tidak ada hambatan.
  
Sementara ini Fatkhan, SH anggota DPRD dari Partai Demokrat Dapil Wedung –Bonang yang dihubungi via telpon genggamnya mengatakan , semua jalan raya desa Jungpasir merupakan prioritas selanjutnya. Tahun ini di kecamatan Wedung setidaknya ada lima jalan yang digarap Wedung , Buko, Menco, Tedunan dan Mutih Kulon. (Muin)

Haji Aman dan Lancar bersama KBIH " Al-Firdaus" Jepara hubungi di  085 290 375 959


Peternak Kerbau Ujungpandan Jepara Butuh Bantuan Sarana dan Prasarana

Kandang kerbau milik peternak desa Ujungpandan

Jepara – Beternak kerbau saat merupakan usaha agro bisnis yang masih prospektif untuk di kembangkan. Selain daging sapi daging kerbau juga salah satu protein hewani yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Di waktu hari raya idul adha hewan berkaki empat ini juga sebagai salah satu hewan kurban yang dicari. Oleh karena itu di desa sentra pertanian hewan besar ini masih dipelihara.

Seperti halnya di desa Ujung pandan kecamatan Welahan Jepara ini beberapa warganya juga memelihara kerbau untuk menambah penghasilan keluarga. Kandang-kandang mereka terletak di pinggir sungai SWD 1 ( Serang lama) berjajar rapi berjumlah 12 petak. Kandang-kandang yang terbuat dari bambu dan beratap genting ini berisi kerbau 3 – 12 ekor tergantung dari kemampuan modal mereka .

“ Saya punya 3 kerbau yang besar 2 yang anakan 1 . Saya tidak beli tetapi hasil parohan dari saudara. Ya memelihara kerbau ini bukan pekerjaan pokok tetapi sambilan tani . Kalau dihitung sudah ada 10 tahun lebih saya ngingoni kerbau ini “, kata pak Ngateman warga RT 10 RW 04 desa Ujungpandan pada Kabar Seputar Muria , Minggu (28/9).

Pak Ngateman mengatakan , memelihara kerbau jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh banyak untungnya. Jika tidak punya modal bisa memelihara kerbai dengan system parohan. Pemodal yang membeli anakan kerbau (gudel) harganya antara Rp 7 juta – 8 juta setiap ekor. Kerbau dipelihara sampai besar atau beranak. Kurang lebih 2- 3 tahun dihitung hasilnya bisa di minta kerbau atau uang.
“ Jika pembesaran saja biasanya hitungannya uang . Jika dyang dipelihara kerbau betina biasanya hasilnya berupa anakan kerbau. Namun jika dihitung hasilnya sama berkisar Rp 7 -8 juta rupiah setiap 2 tahunnya”, kata pak Ngateman.

Menurut pak Ngateman harga kerbau saat ini cukup mahal , sehingga peternak bisa mendapat keuntungan yang lumayan. Kerbau untuk keperluan korban yang berumur 2,5 – 3 tahun harganya bisa mencapai Rp 17 – 20 juta rupiah. Biasanya anakan di beli seharga Rp 7 – 8 juta , waktu pembesaran sekitar 2,5 – 3 tahun. Agar nyucuk satu peternak minimal memelihara kerbau 5 ekor.

Hal sama juga dikatakan pak Sodikin tetangga pak Ngateman, memelihara kerbau masih layak jika di kembangkan sebagai usaha agro bisnis. Namun demikian sarana prasarana juga harus diperhatikan . Selain modal untuk beli anakan keperluan pembuatan kandang juga harus diperhatikan. Lingkungan kandang  seperti jalan dan tempat untuk mandi kerbau  juga harus diperhatikan.

“ Ini semua kandang-kandang milik petani di sini 12 orang , dulu pernah ada kelompok tani tetapi sekarang tidak ada kegiatannya lagi. Kami disini sangat butuh bantuan sarana prasarana dari pemerintah agar ternak kami nyaman masuk keluar kandang”, kata Pak Sodikin.

Pak Sodikin mengatakan karena modal yang terbatas kandang-kandang milik petani kondisinya sangat sederhana. Lantainya masih tanah liat jika musim penghujan kondisinya becek dan kurang sehat. Selain itu jalan untuk turun naik kerbau ke sungai masih berujud tanah liat . Jika hujan tiba kerbau kesulitan untuk naik turun sungai karena jalannya “mathol”.

“ Oleh karena itu kami mengharapkan sekali bantuan dari pemerintah untuk sarana dan prasarana kandang kerbau disini. Kami memang membuat kandang menyatu disini agar keamanan dan kenyamanan kerbau terjaga. Kami bentuk satgas keamanan secara bergiliran “, tambah Pak Sodikin yang dibenarkan mbah Sanusi yang mempunyai kerbau 3 ekor. (Muin)



Haji Aman dan Lancar bersama KBIH " Al-Firdaus" Jepara hubungi di  085 290 375 959


Di Jepara Ada Jembatan Tol Rp 1000 Sekali Jalan


Jepara – Di Dukuh Ndoro Payung ( godhang ) desa Kaliombo kecamatan Pecangaan kabupaten Jepara ada jembatan tol yang usianya sudah puluhan tahun . Dari bentuknya jembatan ini terbilang darurat karena terbuat dari kayu pecahan batang kelapa dan bertiang bambu. Disebut tol karena setiap pemakai jembatan dikenakan bayaran untuk sekali jalan . Jika anda lewat dua kali juga dikenakan bayaran dua kali.

Setiap hari yang melewati jembatan ini ratusan pengendara motor . Mereka yang melewati jembatan ini adalah warga Demak yang ingin menuju ke daerah Jepara atau sebaliknya. Warga desa Mutih Kulon , Mutih Wetan , Bungo yang akan menuju ke Pecangaan Jepara kebanyakan melewati jembatan ini. Sehingga setiap hari jembatan ini tiada sepi dari pengendara kendaraan roda dua.

“ Setahun yang lalu bayarnya hanya Rp 500 saja , tetapi sejarang Rp 1.000. Jika pulang pergi kita harus menyediakan uang receh Rp 2.000. Ini saya alami sudah puluhan tahun “, aku Muslikan warga desa Mutih kulon pada Kabar Seputar Muria, Minggu (28/9).

Muslikan mengatakan , jembatan tol itu disewakan kepada warga setiap lewat lelangan desa tahunnya. Pemenang lelang membayar kepada dua desa yaitu desa Kaliombo kecamatan Pecangaan kabupaten Jepara dan desa Tedunan kecamatan Wedung kabupaten Demak. Menurut informasi uang dari penyewaan jembatan tol itu untuk pembangunan masjid desa setempat.

Persewaan areal jembatan darurat tol itu sudah berlangsung sejak dulu. Setiap masa kontrak habis diadakan pelelangan lagi begitu seterusnya. Si pemenang lelang menunggui jembatan tol itu setiap harinya dari pagi hingga sore hari. Dengan berbekal gubuk kecil dan juga tampah tempat wadah uang iapun menunggu pengendara yang menjatuhkan uang recehan.

Meskipun hanya seribu rupiah saja jika yang melewati ratusan orang , setiap harinya juga terkumpul uang ratusan ribu rupiah. Uang perolehan setiap harinya itu adalah untuk membayar biaya lelangan di depan dan sisanya adalah keuntungan si pelelang. Meskipun kadang agak terpaksa mengeluarkan , namun hampir semua pengendara tahu meskipun tidak ada aturan tertulis.

Sementara itu Petinggi desa Kaliombo Aqshol Amri yang ditemui mebenarkan desanya ada jembatan tol yang membayar di dua sisi. Uang dari hasil persewaan itu masuk kas desa selanjutnya untuk pembangunan masjid dan yang lainnya. Pada tahun 2013 yang lalu fihaknya telah mengusulkan pembangunan jembatan permanen sehingga yang melewati tidak hanya kendaraan roda dua juga kendaraan roda empat.

“ Jembatan itu salah satu jembatan alternative orang Demak menuju ke wilayah Jepara atau sebaliknya. Sudah puluhan tahun jembatan tol itu ada . harapan kami tahun 2014 atau 2015 sudah tidak ada lagi jembatan tol jadinya gratis seperti yang lainnya. “, kata Aqshol Amri. (Muin)



Haji Aman dan Lancar bersama KBIH " Al-Firdaus" Jepara hubungi di  085 290 375 959



Sabtu, 27 September 2014

Warga Kedungkarang Demak Manfaatkan “ Blumbang “ Untuk Mandi dan Cuci

Warga mandi dan cuci di blumbang

Demak – Warga desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak di musim kemarau ini memanfaatkan air “blumbang” ( Embung ) untuk kebutuhan mandi dan cuci. Pagi hari dan sore hari embung yang terletak di tengah desa itu ramai dikunjungi warga. Keramaian itu diawali dengan  matinya pipa air dari PAMSIMAS yang menyambung ke rumah-rumah mereka.

“ Ya kurang lebih sudah tiga bulan embung ini ramai didatangi warga untuk mandi dan cuci. Selain itu juga mengambil air untuk kebutuhan cuci-cuci atau mandi di rumah “, ujar Muhibbi (43) warga desa Kedungkarang pada FORMASS, Sabtu 27/9).

Muhibbi mengatakan , desa Kedungkarang memang ada PAMSIMAS yang menyediakan air bersih ke rumah-rumah warga. Sumber air bersih adalah dari embung yang ada di tengah desa. Bulan Juli yang lalu kondisi air embung surut sehingga pipa penyedot air tidak mampu menaikkan air. Akibatnya pasokan air bersih dari PAMSIMAS terhenti dengan sendirinya.

“ Sebelum bulan Juli warga jarang mandi di blumbang ini . Mereka masih mandi dari air bersih yang tersalur ke rumah mereka. Yang mandi paling warga yang dekat dengan embung ini. Tetapi saat ini hampir semua warga memanfaatkan embung untuk keperluan sehari-hari “, tambah Muhibbi.

Meskipun air semakin surut dan kondisi air semakin keruh dan kotor. Namun warga tak menghiraukan hal tersebut. Hal itu disebabkan pasokan air bersih di rumah sudah habis. Yang ada hanya air asin yang mengalir dari sungai yang mengairi tambak garam. Di blumbang itu mereka selain mandi membawa cucian dari rumah dan juga tempat penampungan air seperti ember dan jrigen .


Air blumbang mulai surut
Air Untuk Minum Beli

Untuk air minum dan memasak sehari-hari warga membeli dari tukang penjaja air yang keliling setiap harinya. Dari penjaja air itu warga membeli dengan hitungan jrigen. Satu sepeda atau sepeda motor dengan isi 5 jrigen mereka beli Rp 12 ribu – Rp 15 ribu. Satu hari rata-rata untuk masak dan juga minum menghabiskan air 1 – 2 jrigen. Jika ditambah dengan mandi dan mencuci sehari bisa habis 4-5 jrigen.

Selain dari penjaja yang menggunakan sepeda motor . Warga juga membeli air bersih lewat mobil tangki dari daerah Jepara dan Kudus. Satu tangki air harganya Rp 350 ribu – 400 ribu sekali kirim. Biasanya pembelian air tangki ini dengan cara patungan. Satu rit mobil tangki biasanya di beli minimal sepuluh orang.

“ Kalau membeli dari mobil biasanya berombongan ada yang 10 orang sampai 15 orang. Warga tinggal menyediakan tempat air berupa jrigen atau tong plastic. Jika warga di rumah mempunyai tendon air berupa bak tinggal isi dari mobil “, kata Muhibbi. (Muin)



Haji Aman dan Lancar bersama KBIH " Al-Firdaus" Jepara hubungi di  085 290 375 959

Jumat, 26 September 2014

Jalan Raya Kedungmalang Mulai Di Dibetonisasi

Betonisasi jalan Kedungmalang

Jepara – Jalan raya yang melewati desa Kedungmalang kecamatan Kedung saat ini baru dalam tahap perbaikan. Tidak tanggung-tanggung pembangunan jalan menggunakan system beton bertulang seperti halnya dengan jalan-jalan di kabupaten Demak . Jalan yang hampir setahun ini tidak terurus kini benar-benar diperhatikan pembangunannya sehingga membuat warga bisa tersenyum gembira.

“ Jika musim penghujan tiba jalan depan balai desa ini seperti kubangan sawah. Penuh dengan air jika dilewati membuat pengendara harus hati-hati jika tidak ingin terperosok. Alhamdulillah jalan depan balai desa ini nantinya akan mulus jika dilewati “, kata F. Razikin petinggi desa Kedungmalang yang ditemui FORMASS dibalai desa Rabu, (24/9).

F. Razikin mengatakan jalan raya yang dibeton sepanjang kurang lebih 500 meter berawal dari tengah desa. Tahun sebelumnya sudah ada satu titik jalan terbetonisasi. Tahun ini jalan tersebut disambung ke barat melewati depan balai desa dan berakhir kurang lebih 30 meter dari pertigaan Kedungmalang. Diharapkan tahun selanjutnya bisa diteruskan ke Utara atau bagian lain yang belum terbetonisasi.



“ Jalan raya desa Kedungmalang ini merupakan jalan alternative menuju ke kota Jepara. Jika hari libur banyak warga luar kota naik sepeda motor lewat jalan ini jika ingin berlibur ke Pantai kartini. Keramaian bertambah jika lebaran ketupat tiba”, tambah F. Razikin yang baru setahunan menjabat Kepala Desa Kedungmalang.

Dari pantauan , setahun lebih jalan raya yang sering dilewati kendaraan pengangkut garam dan hasil laut dibiarkan begitu saja. Akibatnya jika musim penghujan menimbulkan lubang yang besar dan cukup dalam. Banyak warga yang menghindari jalan ini dan memilih jalan alternative lain melewati desa Kedungmutih yang masuk kabupaten Demak.

Kondisi lalu lintas menjadi sepi sehingga membuat sebagian warga yang mempunyai usaha di pinggir jalan. Seperti warung makan , kios bensin conter ,kehilangan pelanggan karena sepinya jalan . Dengan pembangunan jalan yang rusak itu diharapkan kemaraian jalan akan normal lagi.

“ Apalagi jika musim kemarau tiba lebih merepotkan lagi , debu beterbangan ke mana-mana . Depan rumah selalu kotor oleh debu dari jalan. Meski setiap hari selalu disiram debu selalu mengganggu”, kata Ahmad Seger warga desa Kedungmalang yang jalan di depan rumahnya rusak .(Muin)


Haji Aman dan Lancar bersama KBIH " Al-Firdaus" Jepara hubungi di  085 290 375 959



  

Mbah Mafwan Generasi Pertama , Pembuat Garam Dari Desa Kedungmutih


Mbah Mafwan sedang memanen garamnya


Demak – Usaha garam rakyat di kabupaten Demak yang bersentra di 6 desa di kecamatan Wedung cikal bakalnya dari desa Kedungmutih. Dari desa pesisir perbatasan Demak dan Jepara inilah selanjutnya berkembang biak sampai sekarang tidak hanya Demak saja tetapi beberapa desa di Jepara juga mencoba membuat garam. Akhirnya dua kabupaten ini juga menjadi salah satu penghasil garam di Indonesia.

“ Saya dulu belajar membuat garam ini dari anemer Rembang namanya pak Kasdiran. Dia mahir membuat garam didatangkan ke desa Kedungmutih untuk melatih petani tambak untuk membuat garam “, cerita Mbah Mafwan (65) petani garam dari desa Kedungmutih pada FORMASS, Jum’at (26/9).

Mbah Mafwan mengatakan , dulu tambak di desa Kedungmutih hanya menghasilkan udang dan ikan saja. Melihat hasil garam yang cukup lumayan maka salah satu petambak datang ke daerah Rembang untuk melihat cara membuat garam. Gayungpun bersambut kedatangan petambak dari Demak diterima dengan baik oleh petani garam dari Rembang.



Agar pembelajaran lebih cepat maka beberapa ahli pembuat garam didatangkan ke desa Kedungmutih. Salah satunya adalah pak Kasdiran yang dikenal handal membuat garam. Pak Kasdiranpun mengubah lahan tambak ikan milik salah satu petambak dari desa Kedungmutih untuk di ubah menjadi lahan yang menghasilkan garam.

“ Nah dari percobaan itu hasilnya baik dan menghasilkan garam seperti garam dari daerah asalnya. Tahun berikutnya beberapa wargapun mencoba untuk membuat garam di lahan tambak sesuai dengan yang diajarkan oleh pak Kasdiran . Termasuk saya sendiri mencoba hasilnya sampai sekarang saya terus membuat garam “, tambah mbah Mafwan.

Menurut mbah Mafwan membuat garam tidak sulit kuncinya adalah membuat air menjadi tua. Adapun caranya adalah membuat petak-petak secara berurutan kemudian diisi air laut. Agar menjadi tua air itu dipindahkan dari petak satu ke petak lainnya . Untuk tempat pemanenan garam namanya meja kristal (kowen: bhs Jawa) . Meja kristal ini harus kedap air sehingga perlu perataan dan pemadatan.

Meja-meja kristalisasi garam itu jumlahnya tergantung lahan garam yang digarap. Makin luas lahan jumlah meja kristal makin banyak biasanya maksimal tiga puluh persen dari lahan garapan. Setelah meja kristal dipadatkan dan juga dilicinkan dengan alat “slender” dari pipa paralon besar yang diisi cor semen. Meja kristal itu diisi dengan air yang sudah tua minimal 23 . Dalam waktu 6 – 7 hari air tersebut menjadi kristal garam yang siap di panen.

“ Awal panen dulu satu meja kristal ini hanya mendapatkan garam 40 keranjang. Namun saat ini satu kali ambil satu meja ini bisa dapat garam 100 keranjang kurang lebih 4 ton “, kata Mbah Mafwan.



Meja kristal di lahan garam mbah Mafwan termasuk besar panjangnya sekitar 25 meter , sedangkan lebarnya 15 meter. Saat ini yang jadi meja kristalisasi sebanyak 8 buah . Dari kedelapan buah meja kristal itu saat ini ia telah mendapatkan garam 2.000 keranjangan dengan berat rata-rata perkeranjang 40 Kilogram. Sehingga sampai bulan akhir bulan September ini ia telah menghasilkan garam 80 ton.

“ Sampai saat ini saya belum pernah menjual garam ke tengkulak. Garam-garam ini saya simpan sendiri di gudang itu. Adapun biaya angkutnya  satu keranjang Rp 1.500,- . Kita jual nanti habis musim garam atau musim penghujan  “, kata mbah Mafwan lagi.

Menurut Mbah Mafwan membuat garam masih layak dan cukup untuk hidup sehari-hari. Apalagi jika harga garam bisa stabil seperti tahun ini. Satu keranjang garam kualitas umum masih dihargai Rp 38 ribu – 40 ribu rupiah perkwintal . Sedangkan kualitas bagus harganya berkisar Rp 50 ribu – 55 ribu rupiah. Jika harga ini terus bertahan sampai akhir masa garam petani garam akan untung yang lumayan.(Muin)

Haji Aman dan Lancar bersama KBIH " Al-Firdaus" Jepara hubungi di  085 290 375 959


Kamis, 25 September 2014

Sudarji Perangkat Desa Yang Mahir Mendalang

Sudarji , Perangkat yang juga dalang

Blora – Bagi Sudarji  Kaur Keuangan desa Sendangwates kecamatan Kunduran kabupaten Blora nonton kesenian wayang merupakan hobynya sejak kecil. Dari kebiasaan menonton wayang itulah maka kini ia mahir sebagai dalang wayang kulit. Tidak hanya di kenal di daerahnya sendiri ia juga sering di undang untuk manggung tidak hanya di Jawa Tengah saja, Pernah juga ia manggung sampai di Jawa Timur.

“ Alhamdulillah selama 7 tahun mendalang ini saya sudah kemana-mana, selain Pati , Kudus, Jepara m Demak saya juga pernah mendalang hingga daerah Bojonegoro Jawa Timur “, aku Sudarji yang ditemui FORMASS saat manggung di daerah Kedung Jepara.

Sudarji mengatakan , kesenian wayang ada seni budaya yang adiluhung warisan nenek moyang kita . Kesenian itu harus dilestarikan sampai kapanpun. Selain senang sedapatnya kita harus mempelajari kesenian itu sampai bisa . Adapun pembelajarannya adalah lewat nonton wayang secara langsung, lewat video ataupun lewat radio caset.

“ Terus terang saya mendalang ini tidak ada guru khusus. Setiap kali nonton wayang saya “ngematke” benar lakon serta cara memainkan wayang. Selain itu juga irama atau gending juga harus tepat sesuai dengan gerakan wayang”, kata Sudarji.

Setelah pembelajarannya dinilai cukup iapun mencoba untuk pentas wayang. Pada awalnya memang agak grogi atau demam panggung. Namun lama kelamaan  hal itu terbiasa dan jika tidak manggung badan rasanya sakit dan  pegal-pegal. Untuk mengatasi hal itu diwaktu senggang iapun praktek memainkan wayang untuk menambah ketrampilan.

“ Untuk cerita juga demikian saya mempelajari dari apa yang saya lihat. Agar pas dengan kondisi sekarang maka kita bumbui dengan cerita saat ini agar penonton tidak bosan “ tambah Sudarji yang telah mempunyai cucu.

Meskipun sebagai seorang perangkat namun ketrampilan mendalang itu tidak mengganggu kerjanya sebagai perangkat desa. Bahkan dengan ketrampilan ini menambah semangat kerjanya sebagai abdi masyarakat. Bahkan ia mempunyai ijin khusus dalam rangka melestarikan kesenian wayang dan juga memnghibur masyarakat.

“ Alhamdulillah dari mendalang ini saya mendapatkan penghasilan tambahan untuk keluarga. Selain itu juga mempunyai banyak kenalan  dari berbagai daerah yang saya kelilingi. Inilah sesuatu yang paling menyenangkan dalam hidup saya “, katanya lagi.

Berkaitan dengan kesenian wayang ini Sudarji berharap besar kepada pemerintah agar memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para dalang untuk berkiprah. Selain itu memperbanyak acara pagelaran kesenian wayang ini untuk memeriah berbagai macam event tidak hanya acara sedekah bumi saja.Namun acara acara resmi lain bisa dimeriahkan dengan kesenian wayang kulit ini.

“ Jangan sampai kesenian ini di klaim milik negara lain seperti halnya reog ponorogo. Wayang adalah kesenian Jawa milik bangsa Indonesia. Kita sebagai bangsa Indonesia harus melestarikannya . Mudah-mudahan anak atau cucu saya bisa menuruni ketrampilan mendalang saya “, kata Sudarji menutup sua. (Muin)

Haji Aman dan Lancar bersama KBIH " Al-Firdaus" Jepara hubungi di  085 290 375 959




Sungai Kering Rejeki Bagi Peternak Kambing


Mbah Mardi peternak kambing dari Sowan

Demak – Musim kemarau  di bulan September ini membuat sebagian saluran air di sepanjang jalan raya desa Mutih Wetan – Bungo kecamatan Wedung mengalami kekeringan. Air yang biasanya melimpah kini tidak ada setetespun. Lahan persawahan seluas mata memandang puluhan hektar kondisinya kering kerontang menyisakan jerami kering di sana – sini.

Namun demikian bagi para peternak kambing , sapi atau kerbau saluran atau sungai yang kering masih menyisakan rezeki. Di dasar sungai yang mengering itulah tumbuh hijauan berupa rumput dan juga tanaman kangkung. Beberapa peternak kambing dengan leluasa mengambil hijauan itu untuk pakan ternak di rumahnya.

Seperti halnya mbah Mardi (65) warga Sowan Lor kecamatan Kedung kabupaten Jepara ini. Meskipun harus mengayuh sepedanya sejauh hampir tiga puluh kilo meter pulang pergi. Namun hal ini tidak membuat lelah , karena kambing-kambingnya di rumah bisa mendapatkan makanan setiap harinya. Dengan berbekal sepeda dan zak plastic ia berangkat habis subuh.

“ Habis gimana lagi hijauan atau rumput di seputaran persawahan desa Sowan Lor maupun Kidul semua sudah habis . Ya terpaksa mencari sampai di wilayah Demak yang penting kambing di rumah tidak kekurangan makan”, kata Mbah Mardi pada FORMASS yang menemuinya di sungai kering pinggir jalan raya Bungo – Mutih Wetan.

Sungai yang mengering
Mbah Mardi mengatakan , di rumahnya ada enam ekor kambing . Setiap harinya butuh pakan hijauan agar pertumbuhannya baik. Awal memang mencari hijauan di seputaran desa Sowan Lord an Kidul. Selanjunya ke selatan sampai desa Tedunan dan Karangaji. Seiring dengan kemarau yang panjang hijauan makin lama makin habis persawahan tiada hijauan lagi.

“ Ya iseng-iseng jalan-jalan ke selatan , sampai di persawahan  desa Mutih Wetan ini saya menemukan banyak hijauan berupa tanaman kangkung dan rumput. Nah akhirnya saya turun dan mengambil hijauan ini sekali ambil paling banyak dua sak “, tambah Mbah Mardi.

Mbah Mardi mengakui beternak kambing cukup menguntungkan. Meskipun tidak besar namun bisa dijadikan sebagai tabungan. Penjualan kambing biasanya di bulan Besar (Dzulhijjah) untuk keperluan korban atau orang punya gawe. Sekali jual biasanya bisa 4 – 5 ekor. Per ekornya Rp 2 juta – Rp 2,5 juta. Usai penjualan iapun kembali membeli kambing anakan yang harganya hanya separoh saja.

“ Keuntungan penjualan kambing ini bisa untuk kebutuhan harian atau ditabung untuk keperluan mendadak. Beternak kambing tidak sulit yang penting pakan cukup kambing akan tumbuh dengan baik “, kata Mbah Mardi menutup sua. (Muin).



Haji Aman dan Lancar bersama KBIH " Al-Firdaus" Jepara hubungi di  085 290 375 959




"BLOGNYA MASYARAKAT PESISIR DEMAK DAN JEPARA "
Bagi pembaca yang ingin berbagi informasi dapat mengirim tulisan apa saja artikel, Berita, Foto dan apa saja yang bermanfaat ke Email : pakardans[at]gmail.com, Dan jika anda mempunyai informasi yang perlu diliput dapat menghubungi Redaksi Phone:
085641629350.-
Bagi anda yang mempunyai usaha apa saja yang ingin dipublikasan via media internet dan menghubungi Redaksi
Bila anda peduli dengan kemajuan blog ini dapat berbagi dengan kami
Donasi bisa dikirimkan via pengelola blog :
Nama : FATKUL MUIN
Bank : BRI UNIT PECANGAAN KULON JEPARA
NO REK : 5895-01-000092-53-8
" Marilah Kita Bersama Berdayakan Masyarakat Pesisir"