Sabtu, 21 Februari 2015

Inilah Solusi Cerdas Umroh dengan Cepat , Aman dan Nyaman

Rombonagan jamaah Umroh Arminareka Perdana

Jepara - Dengan semakin meningkatnya taraf ekonomi dan kehidupan rakyat Indonesia kini beribadah Haji harus menunggu 5-10 tahun. Bagi yang berusia muda hal ini bukan menjadi masalah yang serius . Namun bagi yang berusia lanjut hal ini bisa memupus keinginan mereka untuk berziarah ke tanah Suci dan makam Nabi.

Namun demikian hal itu bukan suatu kendala . Masih ada jalan lain dengan cepat untuk bisa melaksanakan ziarah ke Makkah dan Madinah . Solusi yang paling cerdas adalah dengan melaksanakan umroh. Umroh bisa dijalankan sewaktu-waktu tergantung kemampuan financial kita.

Seminar Miracle Of Baitullah bersama Ustadz Fauzi Ichsan

“ Nah dengan asumsi itulah saya memutuskan diri untuk menjadi mitra PT Arminareka Perdana di daerah Jepara ini . Bagi warga Jepara yang berniat Umroh dengan cepat , aman dan nyaman saya akan berikan solusi “, kata Khoirul Jazak pimpinan mitra PT Arminareka Perdana di desa Tedunan Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara,

Lewat kantornya itu , Khoirul Jazak akan memberikan solusi yang terbaik bagi siapa saja yang berniat Umroh. Bagi yang sudah siap finansialnya bisa memilih jadwal serta biaya agar secepatnya bisa sampai ke tanah suci. Sedangkan bagi yang belum siap finansialnya ada tahapan-tahapan , bagaimana bisa berziarah ke tanah suci secepatnya.

“ Bagi yang belum siap finansialnya namun ada niat dan keinginan kuat untuk melaksanakan Umroh . Saya akan memberikan solusi lewat berbagai macam seminar yang kita selenggarakan bersama teman-teman setiap waktu seperti hari ini ”, tambah Jazak disela-sela Seminar Miracle Of Baitullah di Rumah Makan Maribu Jepara.

Khoirul Jazak mitra Arminareka Perdana Jepara


Pada Seminar itu tim mitra Arminareka Jepara mendatangkan Ustadz Fauzi Ichsan da’i di MNCTV yang juga pembimbing haji di PT Arminareka Perdana Jakarta. Dalam seminar itu Ustadz Fauzi Ichsan memaparkan bahwa kita sebagai mahluk ciptaan Allah dan Umat rasullah Muhammad SAW dalam satu kali seumur hidup di usahakan bisa berziarah ke Baitullah dan Makam Nabi Muhammad SAW.

“ Dengan kehendak Allah semua bisa terjadi. Oleh karena itu mari hari ini kita niatkan untuk berziarah ke tanah suci. Dengan niat itu insya Allah tidak lama lagi kita akan dipanggil oleh Allah untuk berziarah ke rumahnya “, kata Ustadz di hadapan ratusan peserta seminar.

Melihat kondisi itulah Jazak dengan pintu lebar membuka kesempatan bagi siapa saja yang berniat kuat untuk melaksanakan Umroh . Di Arminareka Perdana ini ada banyak pilihan yang bisa kita jalani agar kita dengan cepat bisa sampai ke tanah suci. Bagi yang telah mempunyai biaya jangan menunda niat baik . Sedangkan yang belum siap kita bisa merencanakan sejak dini.

“ Kami tim arminareka perdana siap memberikan  solusi yang terbaik agar kita semua bisa berumroh dengan cepat ,aman dan Nyaman. Pintu rumah kami terbuka lebar bagi siapa saja jangan segan menghubungi kami . Saya siap datang ke rumah bila diperlukan “, ajak Khoirul Jazak dengan memberikan no HPnya : 082 138 759 186 dan PIN BB 51C18DA0 (Muin)

Senin, 09 Februari 2015

Zuliyanto Berdagang Hasil Laut Sudah Lebih 10 tahun

4
Demak – Hasil laut bagi Zuliyanto warga desa Kedungmutih RT:  12 RW:01 kecamatan Wedung merupakan rejeki tersendiri. Setiap hari ia mendapatkan penghasilan dari berdagang hasil laut. Selain ikan , ia juga pengepul rajungan dan juga berbagai jenis udang.  Ada Udang Lobster , Udang Sikat, Udang bandolan dan yang lainnya.
“ Pokoknya apa saja hasil laut saya tamping. Namun yang terbesar adalah jenis rajungan. Setiap hari saya mengirim rajungan mentah minimal 2-3 kwintal setiap hari “, aku Zuliyanto yang membuka lapaknya di pinggir sungai SWD 2 pada kabarseputarmuria.
Zuliyanto yang didampingi istrinya mengatakan , ia menekuni usaha jual beli hasil laut sudah lebih 10 tahun. Jatuh bangun ia alami namun karena merasa cocok profesi itupun ia tekuni sampai sekarang. Bergelut dengan amisnya ikan, udang dan  rajungan ia jalani dengan senang hati.
“Alhamdulillah dari hasil jualan hasil laut ini saya bisa menghidupi keluarga, membuat rumah dan mengangsur mobil untuk alat angkut sehari-harinya. Selain itu juga ada tabungan sedikit “, aku Zuliyanto.

5
Di gubug yang terbuat dari bamboo dan beratap genting itu. Ia bersama istrinya menunggu kedatangan nelayan dari laut. Selain nelayan desa Kedungmutih ada juga nelayan dari luar desa. Setiap hari mereka datang ke gubugnya untuk menjual ikan, udang atai rajungan.
“ Ini contohnya udang lobster dari nelayan harga perkilonya berkisar Rp 350 ribu – Rp 800 ribu tergantung besarnya. Kalau ini udang Sikat juga lakub dipasaran. Kalau ini Mimi “, kata Zuliyanto sambil menunjukkan beberapa dagangannya.
Untuk komoditas rajungan misalnya , ia membeli dari para nelayan, Untuk harganya tergantung pasar jika permintaan banyak harga bisa mencapai Rp 80 ribu – Rp 100 ribu perkilo ukuran besar. Namun jika turun atau permintaan sedikit harga anjlok Rp 30 ribu – 40 ribu.
Rajungan itu setelah dipilah-pilah sesuai dengan ukuran kemudian dibersihkan. Selanjutnya rajungan itu di rebus dalam dandang yang besar sampai matang. Setelah itu ditempatkan dalam wadah khusus kemudian dikirim ke pengepul besar di daerah Juana.
“ Ya hasilnya tergantung dari banyak sedikitnya mendapatkan dagangan, Jika sedang ramai pernah kirim rajungan hampir satu ton setiap hari, Jika hari biasa kita kirim 2-3 kwintal rajungan matang “, papar Zuliyanto.
Berdagang hasil laut menurut Zuliyanto masih cukup prospektif. Oleh karena itu dia mengajak kepada para nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan. Semua hasil laut laku dijual.Dia berharap pemerintah bisa memfasilitasi para nelayan dan juga pengepul agar hasil tangkapan terus meningkat.
“ Ya selama menjadi pengepul belum ada sentuhan pembinaan dan bantuan dari pemerintah. Padahal di tempat lain saya mendengar ada bantuan untuk pedagang ikan “, harap Zuliyanto. (Muin)

Munif, Modin Babalan Berharap Peningkatan Kesejahteraan Perangkat Desa

Demak – Saat ini gaji perangkat desa di seluruh Indonesia tidak sama. Tergantung dari bengkok ( sawah pengganti gaji ) yang didapatkan. Oleh karena itu kesejahteraan perdes sampai saat ini tidak ada standar khusus.
Bagi yang bengkoknya bernilai tinggi kesejahteraan terpenuhi. Namun sebaliknya jika bengkok yang digarap setiap tahun tidak seberapa. Maka perangkat desa dalam memenuhi kebutuhannya harus cari pekerjaan sambilan lain.
“ Seperti bengkok saya setiap tahunnya hanya laku Rp 2-3 Juta. Sehingga agar kebutuhan keluarga terpenuhi ya harus kerja lain . Nyambi ngojek atau menyewa lahan milik orang lain “, aku Munif Modin desa Babalan kecamatan Wedung pada kabarseputarmuria.com.
Munif yang baru jadi perangkat mengatakan , tidak hanya dia yang bernasib sama . Beberapa rekan satu kantornya juga mendapatkan bengkok yang tidak jauh berbeda. Jika dijual dan dibagi satu tahun setiap bulannya tidak ada Rp 1 juta rupiah. Hanya Kepala desa bengkoknya yang agak lebih banyak.
v
“ Untungnya kami mendapatkan uang kesejahteraan dari pemerintah. Ya lumayan meskipun tidak banyak bisa tambah-tambah untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya “, kata Munif.
Jika dihitung uang tambahan kesejahteraan yang ia terima setiap bulannya masih dibawah hitungan Rp 1 juta rupiah. Namun demikian ia sudah bersyukur pemerintah masih meperhatikan nasib perangkat desa . Terutama yang bengkoknya jika dijual setiap tahunnya kurang dari UMK.
“ Tetapi kami berharap dalam era pemerintahan presiden Jokowi ini . Nasib perangkat desa seperti saya ini diperhatikan. Paling tidak ada kenaikan tambahan dua kali lipat seperti tahun yang lalu. Sehingga tidak ada perbedaan yang jauh dengan perangkat desa lain”, tukas Munif.
Ia menggambarkan sesama perangkat desa di lain desa satu kecamatan. Bengkok yang digarap jika dijual setiap tahunnya laku minimal Rp 8 – 9 juta. Padahal dilihat dari pekerjaannya tidak jauh berbeda. Yang diurusi di desa juga sama. Namun kesejahterannya jauh berbeda.
Namun demikian selama ini ia merasa bersyukur bisa mengabdikan tenaganya demi masyarakat desa. Meskipun menerima gaji seadanya ia tetap men jalankan tugas yang dibebankan padanya. Selain melayani mesyarakat iapun satu minggu sekali berkoordinasi dengan atasannya di kantor kecamatan. (Muin)

Budi Daya Udang Vanamie Di Tambak Demak Masih Menjanjikan


Demak – Saat ini petani tambak khususnya di kecamatan Wedung belum memanfaatkan lahan tambak secara maksimal. Hasil terbesar dari lahan ini adalah garam krosok . Selain garam mereka memanfaatkan lahan itu untuk memelihara ikan dan udang secara tradisional.
Padahal jika dikembangkan lebih besar lagi , lahan tambak itu hasilnya akan luar biasa. Misalnya dengan mengembangkan budidaya udang Vanamie secara semi intensif hasilnya jauh akan lebih besar. Udang Vanamie dikenal sebagai udang yang tahan penyakit dan harga jualnya cukup lumayan.
“ kalau udang windu lakunya harus cukup umur. Namun udang vanamie ini umur satu bulan sudah laku dijual. Jika dihitung pengeluarannya panen satu bulan bisa kembali modal “, aku Muhammad Soleh (35) petani tambak asal desa Kedungmutih pada kabarseputarmuria.com.
Soleh yang menyewa lahan di desa Mutih Wetan mengatakan, selama memelihara udang Vanamie ia belum pernah rugi. Dengan teknik tunda panen ia bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Agar tidak rugi maka persiapan tambak harus matang diantaranya pematang harus tinggi dan tidak ada kebocoran lahan.
“ Cara pemeliharaannya tidak sulit , jika mulai butuh pakan kita harus menyediakan pakan. Pakannyapun mudah pakan ayam bisa digunakan untuk memberi makan udang vanami “, tambah Soleh.
Saat ini Soleh menggarap dua tempat. Masing-masing sudah di tebari bibit kurang lebih 200 ribu . Setiap hari ia datang untuk mengawasi dan juga memberi pakan. Selain itu ia juga mengawasi kondisi air dalam tambak. Jika kotor airpun diganti dengan yang baru.
“ Alhamdulillah dari memelihara udang Vanamie ini saya belum pernah rugi. Satu kali panen tergantung tebarnya keuntungan bisa mencapai Rp5-10 juta sekali panen. Satu tahun biasanya dua kali panen “, kata Soleh.
Puspito Dwi teknisi tambak dari BBAP Jepara membenarkan hal tersebut. Budidaya Udang Vanamie saat ini masih menjanjikan. Buktinya di Jepara saat ini kegiatan budidaya udang bergairah kembali. Dari modal kecil sampai bermodal besar.
“ Tambak di daerah Tanggul Tlare itu juga memelihara Udang Vanamie. Hasilnya bagus sehingga lahan sebelahnya kelihatannya juga menyusul dikembangkan lagi “, kata Puspito.
Namun untuk mengajak petani kembali berbudi daya memang tidak mudah. Mereka sudah merasakan hasil garam yang minim resiko. Untuk kembali berbudidaya selain membutuhkan modal juga butuh ketrampilan dan pemikiran ke depan.
“ Memang mereka masih trauma tempo dulu ketika memelihara udang Windu , tabungan mereka habis semua gara-gara gagal panen . Sehinga meski Udang vanamie menjanjikan mereka kelihatan berhati-hati”, tambahnya.
Untuk pembekalan petani tentang budidaya Udang Vanami ini. Fihak BBAP membuka selebar-lebarnya petani yang ingin belajar berbudida udang vanamie ini. Selain teknik pemeliharaan juga ada pengetahuan tentang pembuatan pakan dan juga penanganan pasca panen.
“ Saya pernah menggarap lahan tambak di daerah Wedung . Tanahnya cukup bagus dibuat tambak udang . Peresapan air sangat sedikit cocok untuk habitat udang “, kata Puspito .****(Muin)
Gambar : www,panturanews.com

Jumat, 06 Februari 2015

Demak – Ada tradisi jaman dahulu yang kini masih dilestarikan berkaitan dengan mencukur bayi. Bayi yang dilahirkan oleh ibunya dari dalam kandungan hampir semua sudah tumbuh rambutnya. Ada yang tebal ada juga yang tipis. Adapun mencukurnya tidak sembarang dicukur namun ada ritual tertentu agar si bayi lepas dari mara bahaya .

Adapun pencukurnya tidak sembarang tukang cukur. Namun ada orang tertentu yang melaksanakan pencukuran bayi. Biasanya adalah para dukun bayi yang memang sudah dibekali dan juga mempunyai ketrampilan untuk hal ini. Waktu pencukurannya juga menunggu waktu yang tepat sesuai adat dan tradisi.

“ Yang lazim dilakukan pencukuran bayi dilakukan ketika umur bayi berusia selapan atau 36 hari. Nah setelah selapan ini bayi bisa dilakukan pencukuran. Selain itu biasanya dilakukan upacara “Nyelapani “ dengan mengadakan selamatan “, ujar mbah Kotiah dukun bayi asal desa Kedungmutih pada kabarseputarmuria.com

9
Mbah Kotiah sedang mencukur bayi

Kotiah mengatakan , mencukur bayi harus hati-hati karena kepala bayi masih rentan benturan benda keras. Selain itu alat cukurnya diusahakan yang tajam sehingga sekali kerok rambut bisa bersih. Agar hasilnya maksimal diusahakan bayi tidak banyak bergerak. Dalam posisi tidur bayi lebih nyaman di cukur.

“ Kulit bayi masih halus jadi cara mencukurnya harus hati-hati benar. Jangan sampai kepala bayi ada yang terluka . Lama tidak mengapa yang penting hasilnya bagus “, tambah Kotiyah.

Rambut-rambut hasil pencukuran bayi tersebut biasanya dikumpulkan dalam satu wadah dan dikeringkan. Setelah itu ditimbang untuk diketahui beratnya. Dari berat rambut itulah kemudian ketemu berapa uang yang harus dikeluarkan untuk sedekah . Rambut ditimbang ketemu 2 gram maka sedekah yang dikeluarkan setara 2 gram emas.

“ Kalau yang tradisi timbang rambut disini sudah tidak ada lagi. Rambut-rambut hasil pencukuran itu selanjutnya dijadikan satu dan dikubur bersama ari-ari dan potongan tali puser “, kata mbah Kotiah.

Dalam rangkaian upacara cukur bayi itu juga dilaksanakan acara aqiqoh . Yaitu menyembelih kambing sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Kambing setelah dipotong dibuat gulai , setelah dido’akan gulai kambing itupun dibagikan kepada tetangga, sahabat dan kerabat.

Menurut K. Maftukhin asal desa Kedungmutih, tradisi aqiqoh merupakan ajaran nabi yang telah dijalankan sejak dulu. Biasanya untuk anak perempuan menyembelih satu ekor kambing . Sedangkan bayi laki-laki menyembelih 2 ekor kambing.

“ Bayi yang dilahirkan ibunya dari kandungan sebelum di aqiqohi , belum bisa memberi manfaat bagi kedua orang tuanya. Jadi bila mempunyai rezeki bersegeralah untuk di Aqiqohi “, tambah Ustadz Maftukhin. (Muin)

Cari Solar Sulit Nelayan Demak , Usulkan pendirian SPDN


Demak – Nelayan Demak yang tinggal di kecamatan Wedung Utara mengharapkan pendirian SPDN Solar secepatnya. Keinginan itu disampaikan oleh para nelayan di acara Musrenbang dan Penyusunan RPJMDes. Kebutuhan bahan solar yang semakin naik dan sulit dicari menjadi suatu permasalahan yang harus diselesaikan.

“ Sekarang nelayan jika melaut minimal menggunakan mesin perahu 2 bahkan ada yang 3 . Sehingga kebutuhan solar naik drastic selama ini kebutuhan nelayan di suplai dari SPDN dari daerah Jepara yang selalu kehabisan stok “, ujar Ihyaul Ulum anggota BPD desa Kedungmutih pada kabarseputarmuria.com

Oleh karena itu anggota BPD dari Dapil III yang mayoritas nelayan itu mengusulkan pada forum agar di desa Kedungmutih didirikan SPDN Solar seperti di daerah Wedung dan Moro Demak. Solar menurutnya merupakan bahan bakar utama nelayan , sehingga stoknya diharapkan selalu ada. Jika ada SPDN para nelayan tidak perlu jauh mencarinya dan hemat biaya.

“ Nelayan biasanya membeli solar pada pengecer di desa , jika kulakannnya ditempat jauh harganya pasti lebih mahal. Nah jika di Kedungmutih ada SPDN Solar harga solar lebih ekonomis karena tidak terpotong ongkos transport”, tambah Ihyaul anggota BPD yang baru saja dilantik.

1aa

Hal sama juga dikatakan Arifin salah satu nelayan desa Kedungmutih , pendirian SPDN solar di desa Kedungmutih harus segera direalisasikan. Kebutuhan solar yang semakin naik dan juga jauhnya letak SPBU membuat nelayan kesulitan mencari bahan bakar solar. Jika ada barangpun kadang harga cukup mahal dengan alasan angkutan atau transport.

Menurutnya SPDN solar di desa Kedungmutih ini nantinya tidak hanya melayani kebutuhan nelayan desa Kedungmutih saja . Nelayan yang tersebar di Wedung seperti desa Babalan , Kedungkarang, Kendalasem dan Tedunan akan membeli di SPDN di Kedungmutih. Sehingga pendirian SPDN ini harus segera direalisasikan.

“ Pernah terjadi karena kesulitan mencari bahan bakar solar nelayan prei tidak miyang ke laut. Akibatnya nelayan mengalami kerugian biasanya dapat hasil namun beberapa kosong karena tak ada bahan bakar”, kata Arifin

Saat ini jumlah nelayan di 5 desa nelayan Wedung Utara mencapai 4 ribu lebih . Kebutuhan bahan bakar solar nelayan tersebut diatas di beli dari bakul yang kulakan solar di beberapa SPDN dan SPBU didaerah Jepara. Para bakul membeli solar dengan menggunakan jrigen kemudian diecerkan pada nelayan. (Muin)
 

Busri : Pedagang Garam Harus Tahan Banting

Demak – Meskipun musim kemarau mulai diambang pintu , namun hal ini tidak membuat “grogi” Busri pengepul garam dari desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak. Garam simpanannya sekitar 200 ton masih ngendon di gudang. Dia berharap masih ada kenaikan harga garam satu atau dua bulan ke depan.

“ Nanti  kalau sudah bulan April atau Mei harga garam akan beranjak naik .    Stok garam ditingkat petani sudah menipis apalagi saat ini masih turun hujan “, ujar Busri kabarseputarmuria , kamis  ( 29/1).

Busri mengatakan menjadi pedagang garam harus tahan banting. Disaat harga tinggi   harus tetap dekat petani garam dengan membelinya . Sedangkan ketika harga turun juga ikut turun. Yang menentukan harga garam adalah pasar bukan pengepul seperti dirinya.

“ Saya sendiri pernah membeli garam dengan harga hampir 100 ribu setiap kwintalnya. Namun pernah juga harga garam perkwintal hanya Rp 20 ribu “,   tambah Busri.

31 
 
Menurut Busri merosotnya harga garam ini terjadi  pada tahun lalu saja. Yang sudah-sudah jika musim penghujan tiba harga garam pasti beranjak naik. 
 Ketika panen raya harga jatuh sudah biasa karena kelebihan barang.

 Bahkan sekarang harga garam dengan kualitas bagus harganya cukup bagus. Saat ini Rp 60 ribu perkwintal sedangkan kualitas umum hanya Rp 30 ribuan setiap kwintal.

Namun demikian dia tidak berkecil hati. Meskipun saat ini masih rugi namun ia bersabar untuk menahan stok garamnya di dalam gudang. Dia berharap hujan masih terus mengguyur sehingga musim garam mundur satu atau dua bulan ke depan.

 32

“ Setelah penggunaan teknologi membrane atau isolator harga garam mulai bagus. Oleh karena itu tahun depan kami  harapka semua petani membuat garam dengan membrane. Kami siap membeli garam mereka dan harganyapun bagus “, kata Busri

Garamnya sejumlah 200 ton masih dibiarkan didalam gudang . Iapun menyibukkan diri dengan menggarap lahan tambaknya. Selain hidup dari berjualan garam iapun hidup dari memelihara udang dan Bandeng.

“ Ya gimana lagi belum ada kenaikan ya di tahan dulu. Siapa tahu tidak ada musim garam karena hujan terus . Harga garam pasti naik dengan sendirinya . Hal ini sudah biasa bagi kami sebagai pedagang ada untung ya kadang rugi dikit “, kata Busri. (Muin)


Hati- Hati !!!! Jalan Raya Kedungmutih – Tedunan Kurang Lebar

Demak – Seiring dengan semakin padatnya lalu lintas di jalan desa Kedungmutih – Tedunan kecamatan Wedung. Membuat lalu lintas tersendat akibat sempitnya jalan ketika terjadi persimpangan  kendaraan roda empat. Bahkan beberapa kendaraan muatan seperti Truk beberapa kali terperosok ke pinggir jalan tanpa pemadatan.

“ Kalau untuk simpangan kendaraan roda dua dengan roda empat sih masih bisa lancar. Namun ketika terjadi simpangan antara kendaraan roda empat sama roda empat salah satu harus turun dari badan jalan “, kata Ali Sopir Truk muatan garam pada kabarseputarmuria.com

Ali yang sehari-harinya melewati jalan Kedungmutih- Tedunan mengangkut Garam mengaku  pernah sekali roda truknya tergelincir terperosok ke pinggir jalan. Selain memakan waktu yang cukup panjang juga mengeluarkan biaya tambahan untuk mengeluarkan roda dari kubangan tanah.

“ Ya habis gimana lagi tidak ada jalan lain harus turun dari jalan beton resikonya ya kayak begini . Bongkar muatan dan roda harus ditarik ke badan jalan lagi. “, tambahnya.

Selain dia masih ada beberapa sopir lagi yang mengalami kejadian serupa dengannya. Terutama pengendara yang tidak terbiasa melewati jalan itu. Ketika bersimpangan dengan sesama kendaraan membelokkan rodanya ke jalan tanah. Perkiraannya pinggir jalan ada borm dari sirtu atau tanah keras.

7

Melihat kondisi jalan yang sempit itu Ali berharap ada pelebaran jalan dari pemerintah. Misalnya dengan menambah lebar jalan di kanan atau kirinya. Setidaknya pinggir jalan di urug dengan tanah yang keras . Sehingga jika roda turun dari jalan beton tidak akan ambles.

Hal sama juga dikatakan Roisul Huda warga desa Kedungmutih ,jalan Kedungmutih – Tedunan dibeberapa bagian yang sempit harus dibenahi. Semenjak jalan di daerah Jepara rusak parah volume pengendara di jalan Kedungmutih – Demak ini selalu bertambah. Tidak hanya kendaraan jenis kecil saja , Truk angkutan barang juga hilir mudik.

“ Dulu memang masih layak karena yang melewati jalan itu kendaraan roda empat kecil. Tetapi sekarang jalan raya ini sudah semakin ramai . Truk pengangkut Garam ,Ikan , Matreal banyak yang lewat jalan ini “, kata Roisul Huda.

Roisul Huda berharap tahun 2015 ini ada perhatian dari pemerintah untuk memperlebar jalan raya Kedungmutih – Tedunan dibeberapa titik yang masih sempit. Utamanya di jalan Kedungkarang – Tedunan dan juga Kedungmutih – Kedungkarang. (Muin)

 

Kelompok Nelayan Kedungmutih Harapkan Bantuan Mesin Perahu

Demak – Musim penghujan bagi nelayan di kecamatan Wedung merupakan musim paceklik. Hujan angin disertai ombak diperairan tidak memungkinkan perahu mereka membelah lautan. Akibatnya penghasilan yang mereka harapkan setiap harinya tidak ada. Beberapa nelayan adanya yang ke kota mencari pekerjaan sambilan.

“ Mereka kebanyakan ke Jakarta mencari kerja di proyek sambil menunggu laut bersahabat kembali. Hampir separoh nelayan di tempat kami cari kerjaan di kota “, kata Mualifin Ketua Kelompok Nelayan “Sumber Daya Laut “ pada kabarseputarmuria.com.

Mualifin mengatakan , musim penghujan tahun ini nelayan banyak preinya. Mulai bulan Desember sampai awal bulan Februari laut terus berombak. Nelayan yang perahunya besar dan punya nyali masih mencoba mencari peruntungan. Sedangkan yang lain rata-rata menunggu laut aman.

“ Yang punya keberanian masih ada yang ke laut , tetapi kebanyakan mereka menunggu laut reda. Terutama perahu-perahu kecil yang kondisinya tua meraka hanya menunggu laut tak berombak “, kata Mualifin.


DSC01427

Pekerjaan sebagai nelayan menurut Mualifin membutuhkan keberanian tersendiri. Selain itu dibutuhkan peralatan yang memadai . Selain alat tangkan ikan , perahu dan juga mesin sebagai pendorong. Perahu harus kuat menahan benturan ombak. Mesin yang sehat juga modal untuk menangkap ikan.

“ Dulu nelayan hanya membutuhkan satu mesin . Namun seiring dengan perkembangan saat ini rata-rata nelayan membutuhkan mesin perahu 2-3. Semakin cepat laju perahu semakin banyak ikan yang bisa ditangkap “, tambah Mualifin.

Oleh karena itu tahun 2015 ini kelompok nelayan “ Sumber Daya Laut “ yang beranggotakan 12 orang nelayan. Mengajukan proposal kepada Bupati Demak berupa mesin perahu lengkap. Mesin itu digunakan untuk memperlancar usaha kegiatan penangkapan ikan. Kondisi mesin perahu anggota kelompok banyak yang tua.

“ Tahun 2013 yang lalu kelompok kami pernah mendapat bantuan Rp 20 Juta . Nah pada tahun 2015 ini kami mengajukan kembali sekitar 100 juta untuk pembelian mesin perahu lengkap . Mudah-mudahan ada respon dari pemerintah “, harap Mualifin. (Muin)

Ibu Mufalikhah , Puluhan Tahun Bantu Suami Berdagang Hasil laut

Demak – Kegigihan seorang ibu rumah tangga di desa Kedungmutih kecamatan Wedung patut ditiru. Meskipun hanya seorang Istri Ibu Mufalihah warga RT 02 RW 02 namun ia berperan alktif ikut membantu suami dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selama hampir dua puluh tahun ia berdagang hasil laut untuk menambah penghasilan suaminya sebagau buruh tambak dan nelayan.

“ Ya gimana lagi anak saya banyak , bapaknya hanya buruh tambak dan nelayan hasilnya masih kurang banyak . Ya kerja sebisanya yang penting setiap hari dapat pemasukan untuk nambah belanja di rumah “, kata Ibu Mufaklihah yang ditemui kabarseputar muria di gubug kecil pinggir sungai Serang.

Di gubug kecil dinding gedeg , atap genting dan berlantai tanah itu setiap hari ibu Mufalikhah beraktifitas . Di gubug itu selain ada peralatan timbang , beberapa ember , box penyimpan ikan dan juga peralatan memasak. Di gubug kecil inilah Ibu Mufalikhah menanti kehadiran para nelayan dan bakul kecil untuk menjual hasil tangkapan .

33

Selain rajungan , keong macan ada juga ikan laut. Untuk rajungan  setiap harinya Ibu Mufalikhah memdapatkan dagangan rata-rata satu kwintal . Rajungan itu selanjutnya di masak didalam dandang besar di dalam gubug. Setelah matang rajungan itupun di setorkan ke pengepul besar di daerah Rembang.

“ Kalau di rata-rata setiap hari saya bisa setor Rajungan matang 1 Kwintal . namun jika musim ramai sehari pernah sampai 5 Kwintal. Rajungan matang saya setorkan ke eksportir Rembang “, aku ibu Mufalikhah.

Untuk harga rajungan selalu fluktuasi tergantung pasokan dan juga permintaan. Untuk harga tertinggi pernah perkilo matang lebih Rp 100 ribu . namun untuk harga rata-rata sekitar Rp 50 ribu setiap kilonya. Oleh karena itu agar tidak rugi komunikasi dengan pengepul besar harus selalu terhubung.

 18

Sedangkan untuk harga komoditas hasil laut lainnya harga tidak terlalu naik turun . Paling naik-turunnya masimal Rp 10 – 20 ribu. Seperti keong macan misalnya harga perkilonya Rp 25 ribu – Rp 30 ribunya. Begitu juga hasil laut lainnya .

Selama berdagang ikan hempuir dua puluh tahun itu. Ibu Mufalikhah mengaku banyak suka daripada dukanya. Dari hasil berdagang hasil laut itu ia bisa membantu ekonomi keluarganya. Hasilnya sudah banyak dirasakan selain untuk belanja sehari-hari juga bisa menyekolahkan anak dan juga memperbaiki rumah.

“ Resepnya orang berdagang itu selain ramah dengan siapa saja juga jangan malu untuk melangkah. Pertama terjun pasti mengalami kerugian , namun setelah itu keuntungan pasti akan datang dengan sendirinya”, kata Ibu Mufalikhah yang mempunyai mitra nelayan lebih 100 orang. (Muin)
"BLOGNYA MASYARAKAT PESISIR DEMAK DAN JEPARA "
Bagi pembaca yang ingin berbagi informasi dapat mengirim tulisan apa saja artikel, Berita, Foto dan apa saja yang bermanfaat ke Email : pakardans[at]gmail.com, Dan jika anda mempunyai informasi yang perlu diliput dapat menghubungi Redaksi Phone:
085641629350.-
Bagi anda yang mempunyai usaha apa saja yang ingin dipublikasan via media internet dan menghubungi Redaksi
Bila anda peduli dengan kemajuan blog ini dapat berbagi dengan kami
Donasi bisa dikirimkan via pengelola blog :
Nama : FATKUL MUIN
Bank : BRI UNIT PECANGAAN KULON JEPARA
NO REK : 5895-01-000092-53-8
" Marilah Kita Bersama Berdayakan Masyarakat Pesisir"