Jumat, 19 Desember 2014

Bu Munafiah 35 Tahun Bantu Suami Cari Nafkah , Berharap Rejekinya Barokah

Biar penghasilan sedikit namun halal dan berkah itulah yang dicari oleh Ibu Munafiah ( 57 ) warga Desa Karangrandu kecamatan Pecangaan kabupaten Jepara ini . Selama hampir 35 tahun ia berjualan makanan kecil di sekolah seputaran Desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak dalam rangka membantu suaminya mencukupi kebutuhan sehari-hari.

 Pagi hari habis subuh setelah menyiapkan sarapan dan makan siang untuk keluarga dengan bakul di gendongan iapun membawa dagangannya dengan naik angkudes menuju SD tempatnya mangkal sehari-hari. Makanan atau jajanan yang ia jual diantarnya bakso ojek, kacang oven, agar-agar , gulali dan masih banyak yang lainnya tergantung musim dan selera anak-anak. Tempat ia jualpun cukup diemperan sekolah dengan menurunkan bakulnya untuk menggelar dagangannya dan iapun duduk di dingkilik kayu kecil untuk menunggu pelanggannya yang kebanyakan anak-anak kecil.

“ Kalau di hitung saya jualan seperti ini sudah lebih 35 tahun dan jualan saya ya seperti ini mas , saya jualannya tidak terlalu ngoyo yang penting dagangan saya habis saya sudah senang. Hitung-hitung bantu suami untuk cari nafkah menghidupi keluarga meski sedikit hasilnya asal barokah . Dari hasil ini saya bisa bantu suami menyekolahkan anak-anak dan juga mondok do pesantren “, ujar Ibu Munafiah yang hari itu mangkal di SD Kedungmutih 

Ibu Nafiah enunggui dagangannya , sederhana
Awal mula jualan makanan kecil di sekolah ini berawal dari tidak ada kesibukan di rumah karena suami kerja diluar desa ,daripada nganggur iapun minta ijin suaminya untuk berjualan jajanan di sekolah . Pada waktu suaminya mencoba untuk mecegahnya namun karena memang tidak ada kesibukan di rumah suaminyapun mengijinkan ia untuk berjualan , namun tugas utama sebagai ibu rumah tangga tidak ditinggalkan begitu saja. 

Malam hari iapun menyiapkan dagangannya  berupa agar-agar yang ditempatkan dalam wadah kecil-kecil , kerupuk macaroni ia beli kiloan lalu ia bungkus kecil-kecil , begitu pula kacang oven.  Selain itu dagangannyapun ia lengkapi dengan bakso ojek yang ia buat dari tepung terigu yang  diberi bumbu kemudian ia bulatkan seperti bakso , untuk saosnya ia campur bumbu kacang dengan kecap dan juga saos yang pedas. Setelah jadi semua dagangannya ia tempatkan dalam bakul , sedangkan untuk bakso ojeknya ia tempatkan dalam dandang kecil yang ia bungkus dengan kardus sehingga mudah dibawa.

Untuk membuat dagangan dalam bakul itu modal yang ia keluarkan tidaklah banyak paling 200 ribuan sudah cukup banyak . Meskipun demikian hasilnya yang ia dapatkan setiap harinya cukup lumayan setelah dikurangi transportasi ia bisa mendapat keuntungan Rp 35.000,- - Rp 40.000,- , oleh karena itu jika badannya sehat ia tetap keluar menjajakan dagangannya. 

Selain tidak memberatkan dagangan yang ia jajakan cepat habis karena harga jualannya cukup murah sekali beli anak cukup mengeluarkan uang Rp 500 – Rp 1.000,- . Saking akrabnya dengan anak-anak kadang-kadang banyak pula dari mereka yang ngutang karena uang jajannya habis , dan besok paginya dibayar . Bahkan kadang adapula ibu yang mengantar anaknya kesekolah dulunya pernah membeli dagangannya dan sekarang ia telah mempunyai anak yang bersekolah di tempat itu juga.

“ Saking lamanya saja jualan di SD Kedungmutih ini banyak anak-anak sekarang yang ibu atau bapaknya dulu pernah membeli dagangannya saya ketika bersekolah dulu. Mereka mengatakan saya awet muda sejak dulu sampai sekarang wajah saya kok tidak berubah “, tambahnya.
Hidup ini jangan ngoyo , terima apa adanya

Ketika ditanya resepnya , ibu beranak lima ini mengatakan menerima apa adanya yang diberikan oleh tuhan menjalani hidup dengan biasa tidak ngoyo. Selain itu jika ada kesusahan kita ambil hikmahnya , jika mendapat sesuatu yang lebih bersyukur. Dengan prinsip itulah ia mengaku dapat menyekolahkan anak-anaknya meskipun tidak lulus sarjana , 

namun semuanya sudah lulus SMA tinggal yang bungsu masih duduk di bangku SMK . Dengan berjualan makanan kecil di sekolah itupun hidup rumah tangganya cukup berkah , oleh karena itu selama badannya masih sehat ia tetap menjalankan profesi ini. Namun sayangnya dari beberapa anaknua itu tidak ada yang menuruni pekerjaan berjualan makanan kecil disekolah , karena mereka sudah punya pekerjaan sendiri-sendiri ( FM)

Fatkhul Muin
Pengelola Blog : Pusat Informasi Masyarakat Pesisir (http: www.For-Mass.Blogspot.com

Senin, 15 Desember 2014

Es Campur “Ikhlas Menanti “ Bang Badi Sudah 20 Tahun






Demak – Bagi penggemar es campur di kawasan desa Kedungmutih dan sekitarnya pasti sudah merasakan minuman segar ini. Selain harganya yang merakyat rasanyapun tidak kalah dengan es campur di kota. Selain buah, cincau , degan , ketan hitam ada susu coklat dan sirup dalam mangkok es campur. Jika sudah ditempatkan dalam wadah mangkok es campur ini pasti menggoda selera kita.

“ Saya jualan Es campur ini sejak tahun 1995. Jika dihitung lebih dari 20 tahun . Kalau tidak salah ingat satu mangkoknya Rp 300. Kalau awalnya saya julalan es krim keliling atau orang bilang es thung. Jadi sampai sekarang banyak anak yang memanggil saya pak Badi Thung “, aku Subadi (48) penjual Es Campur “Ikhlas Menanti” pada kabarseputarmuria.com


Bang Badi mengatakan , dari jualan es krim keliling itulah naluri bisnisnya  berawal. Ketika itu ia baru saja menikah dan ada teman yang menawarinya untuk berjulalan es krim. Iapun belajar membuat es krim dengan cara diputar . Setelah siap kaleng berisi es krim itupun dimasukkan dalam gerobag lalu dijual dengan cara keliling.


 “ Kalau tidak salah ingat ketika awal jual es krim harganya Rp 50 atau Rp 100 satu contongnya. Setelah beberapa lama akhirnya timbul ide untuk membuat es campur. Namun demikian jika ada orang yang pesan Es krim tetap saya layani misalnya untuk orang punya gawe “, kata Bang Badi.
Setelah jualan Es campur Bang Badi tidak lagi keliling kampung. Namun ia mangkal di pertigaan desa Kedungmutih dekat jembatan baru desa Kedungmutih. Dulunya hanya mangkal di depan rumah warga pinggir jalan . Setelah ada rejeki iapun membuat kios kecil berdinding bamboo yang tidak jauh dari tempat lamanya.
Dari usaha jualan Es campur ini Bang Badi mengaku hasilnya bisa untuk membiayai kebutuhan rumah tangganya meskipun  harus hidup hemat. Dengan penghasilan yang kecil itu ia mengaku hanya bisa menyekolahkan anaknya lulus sekolah tingkat atas. Untuk menguliahkan anaknya di Perguruan Tinggi 
hanyalah sebuah mimpi.



 “ Ya paling banter setiap hari habis 50 mangkok satu mangkoknya kami jual Rp 5.000,- , kalau ditanya penghasilan bersihnya ya Rp 50 ribu – Rp 75 ribu. Kalau cuaca panas cepat habisnya , namun jika hujan ya harus tunggu sampai malam habisnya”, tambah bang Badi.
Nah bagi anda yang sedang melakukan perjalanan melewati desa Kedungmutih bisa mencoba atau mampir ke warung es campur bang Badi “ikhlas Menanti” . Lokasinya dipertigaan desa Kedungmutih di dekat jembatan baru desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak. (Muin)






Harapan Petani Jepara , Pupuk Murah dan Tersedia

Tenaga tanam padi sistem borongan

Jepara – Musim hujan mulai tiba ada keramaian tersendiri di lahan persawahan . Para petani mulai terjun ke sawah kembali untuk menggarap lahannya. Diantarnya mereka ada yang mentraktor lahannya untuk persiapan tanam padi. Di tempat lain kesibukan penanaman padi terlihat. Puluhan wanita melakukan tugasnya menanam padi di lahan sawah dengan berombongan.
“ Sekarang tanam padi menggunakan system borongan, satu bau disini upahnya sekitar 1,5 juta. Tergantung dari jumlah yang mengerjakan makin banyak ya makin cepat “, ujar Pak Mardi petani penggarap asal desa Blimbing Rejo kecamatan Nalumsari pada kabarseputarmuria.com
Mardi mengatakan , selain biaya untuk menanam petani harus menyiapkan sejumlah biaya untuk operasional penggarapan sawah. Diantaranya pembelian bibit , tenaga kerja oleh , obat-obatan dan juga pupuk. Dengan jumlah yang banyak ini biasanya pemilik lahan biasanya tidak mau beresiko. Sehingga mereka menyewakan sawahnya secara tahunan ataupun jangka waktu yang lama pada penggarap.
Pak Mardi

“ Saya sebenarnya tidak mempunyai lahan sawah sendiri. Namun setiap tahunnya pasti menggarap sawah dengan cara sewa. Ya selama puluhan tahun saya jalankan. Dan hasilnya meski kadang rugi namun selama ini banyak untungnya “, aku Pak Mardi.
Menurut pak Mardi menggarap sawah itu harus telaten , mulai pengolahan tanah , pembuatan bibit , penanaman , pengobatan sampai dengan pemupukan. Meski tidak mempunyai guru khusus namun karena pengalamannya bertahun-tahun menanam padi akhirnya ia menemukan cara tersendiri.  Sehingga hasil panenannya tidak pernah gagal total, paling ya untung dikit bila hasil tanaman kurang bagus.
“ Rata-rata sawah disini perhektar ya antara 4 – 6 ton. Jika hasilnya bagus bisa dapat untung minimal 20 – 30 %. Apalagi jika harga gabah bagus kentungan bisa mencapai 40 %. Oleh karena itu bagi saya usaha menanam padi ini masih prospektif “, tambah Pak Mardi.
Namun demikian ada kendala yang sering menghadang petani berkaitan dengan  tersedianya pupuk. Sering terjadi ketika petani butuh pupuk justru di pasaran tidak ada . Pernah ia dibuat pusing karena langkanya pupuk. Meski ia mau membeli dengan harga mahal , namun dipasaran pupuk menghilang. Adanya pupuk organic , namun dari pengalaman pupuk organic hasilnya masih kalah dengan pupuk anorganik.
“ Kita petani sudah bersusah-susah menanam padi kayah gini. Keinginan petani tidak banyak diantaranya masalah ketersediaan pupuk harus dipikirkan oleh pemerintah. Ketika kita sedang butuh pupuk barang di lapangan tidak tesedia dengan alasan habis. Itulah kendala terbesar petani disini . Semua petani disini kalau butuh pupuk pasti susah dan langka “, jelas Pak Mardi.
Kalau dilihat hasilnya usaha penanaman padi ini cukup layak untuk ditekuni. Selain waktunya yang tidak terlalu lama gabah juga kebutuhan pokok kita. Berapapun stok gabah pasti laku atau dibeli pengepul. Agar usaha lancar pemerintah harus menyuplai atau menyediakan kebutuhan petani seperti bibit, pupuk dan juga sarana penunjang lainnya. (Muin)



"BLOGNYA MASYARAKAT PESISIR DEMAK DAN JEPARA "
Bagi pembaca yang ingin berbagi informasi dapat mengirim tulisan apa saja artikel, Berita, Foto dan apa saja yang bermanfaat ke Email : pakardans[at]gmail.com, Dan jika anda mempunyai informasi yang perlu diliput dapat menghubungi Redaksi Phone:
085641629350.-
Bagi anda yang mempunyai usaha apa saja yang ingin dipublikasan via media internet dan menghubungi Redaksi
Bila anda peduli dengan kemajuan blog ini dapat berbagi dengan kami
Donasi bisa dikirimkan via pengelola blog :
Nama : FATKUL MUIN
Bank : BRI UNIT PECANGAAN KULON JEPARA
NO REK : 5895-01-000092-53-8
" Marilah Kita Bersama Berdayakan Masyarakat Pesisir"