Minggu, 23 November 2014

Woooow !!!! Indahnya Pemandangan Savana Di Mranggen Demak

Demak - Ini lo savana sekitar Mranggen, tepatnya diperbatasan Kab.Demak & Kota Semarang masuk desa Kebonbatur Mranggen Demak & desa Rowosari Tembalang Kota Semarang. Banyak wisatawan baik dari dalam maupun luar kota yg berkunjung untuk menikmati keindahan Savana disini. Dari Kecamatan Mranggen sekitar 7 km








Kamis, 20 November 2014

Wanita Perkasa Dari Pesisir , Tenaga Angkut di Lahan Garam

bawa garam  lebih 50 kg

Demak- Lima desa pesisir di kecamatan Wedung sejak dulu dikenal sebagai sentranya pembuatan garam rakyat (krosok). Desa itu diantaranya Kedungmutih, Kedungkarang,Babalan, Tedunan, Kendalasem dan Berahan Wetan. Jika musim kemarau tiba kelima desa ini merasakan hasil dari olahan air laut menjadi garam. Hampir semua tenaga kerja terserap pada usaha pembuatan garam.
Termasuk para wanita baik remaja putri maupun ibu rumah tangga.Mereka terserap pada sector pengangkutan garam dari lahan menuju ke pinggir jalan raya.  Adapula yang mengangkut garam dari lahan pemanenan menuju ke gudang penyimpanan. Mereka biasanya bekerja berkelompok minimal 4 orang sampai 10 orang. Kerja mereka menggunakan sistem borongan , dan upah mereka dibayar menurut kesepakatan.
“ Para buruh angkut garam dengan system gendongan ini upahnya tergantung dari jarak angkut barang. Jika jarangnya dekat biasanya satu gendongan upahnya Rp 1.000,- . Sedangkan jika jaraknya cukup jauh ongkosnya bisa mencapai Rp 2.000 atau lebih “, ujar Busri pengepul garam dari desa Kedungmutih pada kabarseputarmuria.com

wanita perkasa dari pesisir Wedung

Busri yang setiap waktu menggunakan jasa buruh gendong mengemukakan, mereka adalah wanita perkasa bagi keluarganya. Selain berfungsi sebagai ibu rumah tangga yang mengurus keluarga. Mereka juga berperan aktif dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarganya. Pengasilan mereka sehari-harinya cukup lumayan. Kerja merekapun tidak menganggu rutinitas ibu rumah tangga.
Salah seorang buruh angkut garam Ibu Atun dari desa Tedunan kecamatan Wedung pada kabarseputarmuria mengatakan , dia kerja sebagai buruh gendong garam sudah lebih dua puluh tahun. Sejak masih remaja dia telah bekerja sebagai buruh angkut garam . Ketika itu ia ikut rombongan bersama tetangganya. Selain di desanya sendiri ia mburuh gendong garam sampai ke desa Kedungkarang, Kendalasem dan Kedungmutih.
“ Ya hasilnya tergantung dari banyak sedikitnya gendongan , kalau sedang ramai sehari ya bisa dapet Rp 50 ribu – Rp 75 ribu. Kalau sedang sepi  atau badan kurang sehat ya dapat Rp 35 – 45 ribu. “, aku ibu Atun.
Selain ibu Atun warga desa Tedunan yang menekuni kerja sebagai buruh angkut garam masih ada puluhan orang. Mereka adalah wanita yang benar-benar perkasa. Setiap hari mereka mengangkut puluhan ton garam dan berjalan kaki puluhan kilo. Satu kali angkut mereka membawa beban minimal 50 Kg . Meski dari segi tubuhnya mereka kelihatan lemah namun tenaganya cukup kuat . Sehingga peran mereka sangat dominan dalam kelancaran distribusi garam.
Selain itu kekompakan mereka dalam berkelompok juga patut di acungi jempol. Para buruh gendong ini dalam satu kelompok ibarat keluarga jadi hasil borongan mengendong garam ini biasanya di bagi rata semua angota keluarga. Sehingga penghitungan pemakai jasa cukup mudah . Mereka mendapatkan berapa karung  tinggal mengalikan berapa upah perkarung . Pembagian upah mereka yang mengatur dengan sendirinya. (Muin)


Antok Panggung Servis Motor Tanpa Kursus Atau Sekolah


Jepara – Pepatah lama mengatakan Di situ ada kemauan pasti ada jalan.  Antok warga desa Panggung kecamatan Kedung mengamini pepatah itu. Dengan kemauan yang keras meski tidak sekolah otomotif atau kursus . Kini ia bisa membuka usaha bengkel motor di rumahnya. Segala jenis motor ia bisa tangani selain itu ia juga membuka jasa tambal ban.
“ Saya tidak mempunyai ijasah sekolah bengkel , sekolahpun hanya lulusan SMP . Tetapi karena saja berusaha untuk bisa akhirnya saya bisa buka bengkel sendiri di rumah saya ini “, aku Antok pada kabarseputarmuria.com di rumahnya desa Panggung tepatnya pinggir jalan raya Kedungmalang – Jepara.
Antok mengatakan sebelum membuka usaha sendiri di rumahnya , ia pernah kerja di bengkel motor orang. Ketika itu ia baru lulus SMP dan tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah. Ketika itu ia telah kehilangan bapaknya, sehingga ibunya tidak mampu membiayai. Meskipun dengan bayaran yang tidak begitu banyak ia terima tawaran kerja di bengkel.
“ Karena tidak mempunyai keahlian maka ia awalnya sebagai kenek. Tugasnya membantu yaitu mengambilkan peralatan dan tugas ringan lainnya. Misalnya membuka bagian motor atau mengembalikan seperti semula. “, kata Antok.
Antok sedang menservis sepeda motor 

Setiap harinya meski menjadi kenek ia terus memperhatikan kerja atasannya. Dari memperhatikan setiap hari itulah ia mulai bisa mengatasi kerusakan motor sedikit-sedikit. Begitu seterusnya ia perhatikan cara mengatasi kerusakan mesin motor dari berbagai sebab. Setelah lebih 4 tahun bekerja iapun mulai diserahi pekerjaan untuk memperbaiki mesin motor.
“ Nah setelah saya rasa cukup dan bisa menguasai kerusakan motor , sayapun pamit pada bos. Sampai di rumah sayapun mulai membuka usaha bengkel dan tambal ban motor dengan modal seadanya “, tambah Antok
Dengan modal tambahan dari Koperasi iapun mulai memperbesar bengkelnya dengan menyediakan onderdil bekas pakai. Ada ban , pelek , rantai dan asesoris motor lainnya. Sehingga pemasukan tidak saja dari usaha servis motor dan tambal ban namun juga dari keuntungan penjualan onderdil motor. Pelanggannyapun dari waktu ke waktu semakin banyak terutama anak-anak muda.
Dari membuka usaha bengkel dan penjualan onderdil ini Antok mengaku bisa menghidupi keluarganya. Selain itu juga bisa memperbesar usahanya . Oleh karena itu dia berpesan kepada siapa saja yang ingin membuka usaha harus ada kemauan yang keras. Meski dirinya tidak dibekali dengan ilmu dari sekolah atau kursus , namun karena ada kemauan nyatanya bisa berhasil. (Muin)

Inilah Gotong Royong Turunkan Perahu di Pesisir Demak


Demak – Meskipun sekarang sudah memasuki jaman mellinium , namun masih ada tradisi yang berkaitan dengan menaikkan dan menurunkan perahu di pesisir Demak. Perahu-perahu nelayan yang digunakan untuk melaut setiap hari . Pada waktu-waktu tertentu akan dinaikkan ke darat untuk diservis atau di cat ulang agar awet dan menarik.

Untuk perahu yang ukurannya besar  menaikkan atau menurunkan perahu membutuhkan tenaga yang cukup banyak . Tidak hanya satu atau dua  namun butuh orang hingga puluhan. Oleh karena itu ketika akan menaikkan atau menurunkan perahu satu hari sebelumnya suda woro-woro pada tetangga kanan kiri.

“ Rata-rata perahu disini besar-besar sehingga jika mau dinaikkan atau diturunkan kembali perlu banyak orang untuk mendorongnya. Kita harus memberitahu para tetangga dahulu agar berkumpul semakin banyak orang pekerjaan semakin selesai “, ujar Fitahul nelayan asal desa Kedungmutih pada kabarseputarmuria.com


Tradisi turun naik di desa pesisir adalah hal yang lumrah dan sudah ada sejak lama. Para nelayan hidup rukun dan bekerja bersama-sama. Dulu sebelum ada mesin satu perahu dijalankan minimal 2 orang. Namun dengan hadirnya mesin perahu ini bisa menghemat tenaga manusia. Tetapi untuk gotong royong naik turun perahu sejak dahulu hingga sekarang tidak berubah. Semua ikut bergerak agar perahu cepat naik atau turun dari sungai.

“ Namanya sudah tradisi tidak ada bayaran tertentu dalam rangka menaikkan dan menurunkan perahu ini. Paling-paling pemilik perahu menyediakan makanan dan minuman serta rokok secukupnya. Semua nelayan pasti akan punya gawe seperti ini “, tambah Fitahul

Memang tanpa bantuan tetangga kanan kiri , nelayan akan sulit menaikkan dan menurunkan perahu . Apalagi jika perahu yang diperbaiki tergolong besar. Perahu yang diperbaiki harus benar-benar naik ke darat agar penservisannya lebih mudah. Selain itu jika ada kebocoran perahu bisa segera di ketahui. (Muin)


Mentan Baru Kunjungi Desa Jetak Demak

Mentan (tanpa topi )  dan Bupati Demak (batik)

Demak - Rabu (19/11) Menteri Pertanian Kabinet Jokowi - JK Andi Amran Sulaiman mengunjungi Demak . Menteri asal Bone Sulawesi Selatan itu, sempat berdiskusi dengan Bupati Demak , Dachirin Said  soal potensi pertanian di kabupaten Demak.
Dengan di iringi para pejabat kabupaten , Menteri Pertanian melihat dari dekat kondisi lahan persawahan yang ada di desa Jetak kecamatan Wedung. Desa ini merupakan desa yang lahan persawahannya cukup luas . (Muin)

Gambar : 



Mari Sholawatan Ilir-ilir Karya Sunan Kalijaga bersama Habib Syah








Selasa, 18 November 2014

Presiden Jokowi Berani Menaikkan Harga BBM



Bensin Naik Ongkos Ojekpun Ikut Naik

Maksum dan hamim tukang ojek

Demak – Suka tidak suka senang atau susah Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah naik . Ada yang menanggapinya dengan nada positif ,namun banyak pula yang mencibir dan menghujat pemerintah. Pagi ini semua orang membicarakan kenaikan BBM , termasuk juga tukang ojek di pasar Baru desa Kedungmutih kecamatan Wedung.
“ Ya habis gimana lagi bensin naik ya kita tetap ngojek. Memang pekerjaan sehari-hari ya ngojek. Kalau tidak narik bagaimana untuk belanja sehari-hari. Hari ini sih kita belum naikkan ongkos yang penting narik dulu “, ujar Maksum tukang ojek di pasar baru desa Kedungmutih yang ditemui kabarseputarmuria.com
Dampak kenaikan BBM saat ini memang belum terasa . Pengeluaran hariannya ungtuk beli bensin paling naik paling banter Rp 5 ribu sehari. Namun yang ia khawatirkan adalah dampak lainnya terutama yang berkaitan dengan harga sembako di pasar. Saat ini beras mulai merangkak naik, bumbu dapur juga mulai naik. Jika semua naik ini akan menjadi beban yang cukup berat.
“ Kalau naiknya bensin sih tidak kami rasakan , namun yang kami khawatirkan adalah naiknya sembako dan kebutuhan lain. Penghasilan berkurang tetapi pengeluaran terus bertambah naik. Inilah yang menjadi masalah hidup bertambah susah “, tambah Maksum.

Sepeda motor pengojek

Hal sama juga dikatakan pengojek motor dari desa Karangrandu Jepara Hamim. Dengan naiknya harga BBM terutama bensin secara tidak langsung mengurangi penghasilan hariannya. Setiap hari ia beli bensin minimal dua liter sehari. Dengan naiknya harga bensin penghasilan hariannya berkurang empat ribu rupiah.
“ Bayangkan saja setiap hari saya ngisi bensin di Pom Rp 12 ribu sudah full tank karena sisa kemarin masih ada. Namun sekarang harus mengeluarkan uang paling tidak Rp 16 ribu agar full tank “,tutur Hamim.
Mengenai kenaikan ongkos ojek menurut Hamim , tidak bisa dilakukan seketika. Biasanya menunggu kesepakatan dengan teman sesama pengojek lainnya. Kalau tidak biasanya para pelanggan dengan sendirinya memberikan ongkos yang lebih dari biasanya. Beberapa kali ada kenaikan BBM ongkos ojek biasanya akan naik dengan sendirinya meskipun butuh waktu. (Muin)



Bisnis Buah Kelapa Tidak Ada Sepinya

Panji sedang layani pelanggannya

Jepara-  Salah satu hasil perkebunan yang banyak diperdagangkan di pasar tradisional adalah buah kelapa. Hasil dari tanaman yang daunnya bisa digunakan untuk berbagai keperluan ini sangat dibutuhkan pembeli. Berapapun jumlahnya selalu habis diborong untuk pembeli. Permintaan buah kelapa ini tidak ada sepinya, meski suasana biasa buah ini tetap laris manis.
“ Apalagi jika musim orang punya gawe permintaan buah kelapa ini selalu naik. Sehingga pada bulan bulan tertentu sehari saya bisa balik dua kali atau lebih untuk mengantar buah kelapa ke pasat tradisional di seputaran Jepara “, ujar Panji baku buah kelapa asal desa Welahan jepara pada kabarseputarmuria.com.
Buah kelapa yang diiderkan ke hampir semua pasar tradisional di Jepara dan sekitarnya ia beli dari daerah Kebumen dan sekitarnya. Setiap hari ia mendapat pasokan minimal satu truk besar kelapa setiap harinya. Dengan berbekal kendaraan pic up buah kelapa itu ia iderkan ke pasar di berbagai penjuru Jepara.
“ Sekali bawa minimal 1.500 butir , kadang kalau ada pemintaan sampai 2.000 butir  sekali kirim. Harga jual kelapa fluktuatif tergantungh stok dan pemrintaan harga saat ini Rp 2.000 – Rp 2.500. Kelapa ini saya jual pada bakul-bakul di pasar. Satu bakul biasnya ambil 50 – 200 butir kemudian diecerkan”, tambah panji yang ditemui di pasar baru desa Kedungmutih.
Panji mengatakan dia berdagang buah kelapa ini sudah lebih 5 tahun dengan di bantu temannya setiap hari ia keliling pasar. Dari penjualan buah kelapa itu ia bisa menghidupi keluarganya. Menurutnya berdagang kelapa tidak ada ruginya. Kalau terpaksa biasanya kembali modal , karena permintaan turun hargapun diturunkan. Oleh karena itu ia tetap menekuni bisnis jual beli kelapa ini.
Sementara itu Sumirah (49) pedagang Kelapa di pasar baru Kedungmutih mengaku senang ada pemasok kelapa langsung ke pasar. Biasanya ia kulakan Kelapa ke Pasar Pecangaan atau Mayong . Selain membutuhkan waktu juga harus tambah ongkos transportasi. Namun jika ada yang memasok ke pasar biaya transportasi bisa dikurangi dan keuntunganpun bertambah.
“ Ya untungnya dikit-dikit pak perbutir Rp 500 – 1.000 rupiah. Biasanya pembeli eceran minta di kupas sekalian. Ya kita kupaskan demi kepuasan pelanggan. Jika untuk orang punya gawe biasanya belinya borongan “, cerita Sumirah . (Muin)


"BLOGNYA MASYARAKAT PESISIR DEMAK DAN JEPARA "
Bagi pembaca yang ingin berbagi informasi dapat mengirim tulisan apa saja artikel, Berita, Foto dan apa saja yang bermanfaat ke Email : pakardans[at]gmail.com, Dan jika anda mempunyai informasi yang perlu diliput dapat menghubungi Redaksi Phone:
085641629350.-
Bagi anda yang mempunyai usaha apa saja yang ingin dipublikasan via media internet dan menghubungi Redaksi
Bila anda peduli dengan kemajuan blog ini dapat berbagi dengan kami
Donasi bisa dikirimkan via pengelola blog :
Nama : FATKUL MUIN
Bank : BRI UNIT PECANGAAN KULON JEPARA
NO REK : 5895-01-000092-53-8
" Marilah Kita Bersama Berdayakan Masyarakat Pesisir"